Friday, 6 May 2022

Kenangan Tugas ke 3 Aku Mampu Menulis Content

 Pijar Inspirasi dari Pemuda Madiun

Penulis: Amalia Wardhani

Jujur saja setiap Ramadhan tiba, penulis selalu merasa sedih. Karena tidak dapat melaksanakan sholat tarawih berjamaah seperti kebanyakan umat muslim yang lainnya, sebab penulis tidak dapat melangkahkan sepasang kakinya menuju masjid. Tidak ada buka bersama dengan para alumni teman-teman sekelas di sekolah, karena penulis tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Pun tidak mampu membantu ibunya memasak untuk sahur dan berbuka, karena kondisi fisiknya.

Cerebral palsy, begitulah yang dikatakan oleh Eka Prastama Widiyanta, seorang aktivis disabilitas yang kini telah menjadi salah satu anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND). Analisa tersebut dikatakan Eka saat pertama kali berkenalan dengan sang penulis di rumahnya, pada 23 Januari 2014. Sejak itulah sang penulis mulai mencari tahu segala hal tentang Cerebral Palsy melalui pencarian Google. Dari yang dipahami oleh penulis, Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah suatu kelainan pada gerakan, otot, atau postur tubuh. Biasanya disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal, sering kali terjadi sebelum kelahirannya.

Setelah bergabung dengan Komunitas Difabel Bangkit (KDB), penulis akhirnya bisa sedikit mengurangi kesedihan yang dirasakannya. Sebab dia bukan satu-satunya penyandang disabilitas Cerebral Palsy yang juga tidak dapat melakukan aktivitas di bulan Ramadhan ini seperti kebanyakan umat muslim yang lainnya.

Sebut saja Mahfud Asrofi. Lelaki yang berasal dari Madiun, Jawa Timur, ini juga mengalami Cerebral Palsy. Kondisi tersebut mengharuskannya untuk berbesar hati menerima kenyataan bahwa dia tidak dapat melakukan aktivitas di bulan Ramadhan ini seperti kebanyakan umat muslim yang lainnya.

Bahkan selain mampu berbesar hati menerima keadaannya sendiri, yang juga tidak mampu ikut sholat tarawih berjamaah, tadarus bersama di mushola, dan sholat idul Fitri di Masjid. Dia bahkan bisa memberikan saran yang mampu menguatkan sang penulis, "Tetap semangat lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Jangan muluk-muluk pikirannya. Tidak harus semuanya itu sama seperti mereka yang non disabilitas, tak apa-apa jika satu atau dua hal tidak bisa sama."

Masih menurut dia, masih ada kegiatan lain yang juga bisa kita lakukan sebagai disabilitas yang tidak bisa ke mana-mana ini. Seperti sholat tarawih, sholat dhuha, sholat sunah qobliyah, tadarus Al-Qur'an, dan tidur siang yang cukup. Sesuai dengan apa yang pernah penulis dengar juga dari ustaznya sewaktu masih di TPQ dulu, bahwa selama tidak berlebihan, tidur siang di bulan Ramadhan juga bernilai ibadah.

Untuk mensiasati kesedihan karena tidak bisa bertadarus bersama-sama di mushola seperti yang lainnya, dia menyarankan untuk melakukan pembacaan Al-Qur'an sendiri di rumah masing-masing. Dia juga memberikan wejangan, sebisa mungkin targetkan 1 bulan bisa khatam 1 kali.

Sedangkan untuk sholat tarawih berjamaah, dapat digantikan dengan mengerjakan sholat tarawih sendiri di rumah. Ambillah yang jumlah raka'at sesuai kemampuan masing-masing saja. Tidak perlu memberatkan diri sendiri, dengan raka'at yang sebanyak-banyaknya seperti di mushola atau masjid. Karena yang terpenting adalah kekhusyu'an dan ketulusan niat kita.

Tak dapat dipungkiri, setiap manusia pasti memiliki rasa iri kalau tidak bisa sama seperti yang lainnya, tak terkecuali para disabilitas seperti kita. Namun menurut Mahfud, kita yang sudah sedari kecil disabilitas semestinya sudah mampu mengendalikan bagaimana keinginan kita, supaya tidak terus menjadi iri yang berkepanjangan.

Dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarnya juga mempengaruhi bagaimana Mahfud bisa menjadi seperti sekarang, yaitu tidak lagi merasa sedih karena berbeda dalam menjalani aktivitas di bulan Ramadhan. Keluarga memberikannya kegiatan yang positif, seperti menjaga warung, dan memberikan kesempatan untuk belajar berjualan secara mandiri. Sehingga dia memiliki kesibukan, dan tidak terhanyut dalam pikiran-pikirannya sendiri.

Mahfud juga menuturkan bahwa, tidak ada yang berubah dengan kegiatannya sebelum dan sesudah memasuki bulan suci Ramadhan, dia masih tetap konsisten menjaga warung dan berjualan pulsa seperti biasanya. Hanya menambahkan satu jenis jualan yang sebelumnya tidak ada di bulan yang lain, yaitu kembang api. Diharapkan kehadiran kembang api ini dapat memeriahkan bulan Ramadhan dan menghibur anak-anak kecil di sekitar lokasi rumahnya.

Harapannya tidaklah muluk-muluk, "Semoga semakin baik ibadahnya, lebih bisa menghargai waktu lagi, dan mendapatkan berkah pada malam Lailatul Qadar."



Sunday, 24 April 2022

Film Anak-anak Paling Gila yang Pernah Kutonton

 

Review The Willoughby

Film anak-anak paling gila yang pernah aku tonton. Bener-bener gila sih! Aku nggak pernah menduga ada orang-orang yang berani memasukkan kisah seperti ini dalam film anak-anak. Tapi bukan berarti buruk sih. karena menurut aku setiap kisah memiliki pelajaran yang bisa dipetik. Tergantung bagaimana kita memandangnya.

Walaupun aku tahu sih, di dunia nyata bukan berarti nggak mungkin ada orang tua yang memperlakukan anaknya dengan tidak baik. Tapi hampir semua kisah-kisah yang ada dalam bentuk film, terutama untuk anak-anak, pasti menceritakan tentang keluarga bahagia dan orang tua yang penuh kasih. Film ini menurut aku semacam anomali.

Jadi film ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang saling mencintai, dengan cara mereka mencintai yang benar-benar norak dan berlebihan. Mungkin kalau di era anak muda jaman sekarang, kita biasa menyebut bucin, alias budak cinta. Parahnya cinta mereka itu hanya berlaku untuk satu sama lain, tapi tidak untuk anak-anaknya. Mereka menelantarkan anak-anaknya, hanya menikmati masa-masa berdua sepanjang waktu, dan menghukum anaknya dengan sesuka hati.

Jadi inget kata-kata netizen, " cinta nggak selamanya indah Dik." Tapi serius deh film ini benar-benar menggambarkan itu. Iya maksudnya mungkin bagi mereka cinta mereka itu indah, tapi sayangnya bagi anak-anaknya itu adalah penderitaan.

Sampai suatu ketika di depan gerbang ada seseorang yang membuang bayi, bayi itu ditemukan oleh 4 anak dari sepasang suami istri bucin tadi. Empat anak tersebut akhirnya mengirimkan si bayi ke sebuah pabrik permen, di mana di sana ada seorang lelaki gagah dan agak menyeramkan. Tapi dalam bayangan mereka lelaki itu adalah sosok orang tua yang sempurna.

Mereka kemudian iri pada si bayi yang mendapatkan orang tua yang mungkin sempurna, dan mereka berharap memiliki orang tua yang sempurna juga seperti itu. Lalu mereka berpikir untuk menjadi anak yatim. Kemudian merancang strategi untuk mengirim kedua orang tuanya ke rangkaian perjalanan liburan yang berbahaya. Tentu saja untuk tujuan agar mereka menjadi yatim, dengan harapan menemukan orang tua baru yang lebih menyayangi mereka. Tapi ternyata mereka tidak ditinggalkan sendirian, seperti yang mereka harapkan. Karena kedua orang tua mereka mempekerjakan seorang pengasuh anak-anak.

Mungkin karena sama-sama anak pertama, aku bisa sangat memahami kenapa salah satu dari keempat anak itu, yang bernama Tim sangat mencurigai sang pengasuh. Karena jujur saja waktu awal-awal aku pun menaruh kecurigaan yang sama pada sang pengasuh. Meski ternyata sang pengasuh yang bernama Linda, tidak seburuk yang diduga Tim.

Film ini juga mengajarkan padaku bahwa kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya. Karena Kapten Melanof, sang pemilik pabrik permen yang menurutku menyeramkan, karena tinggi, gagah, dan bersuara keras ternyata punya hati yang selembut permen kapas.

Film ini juga mengajarkan bahwa yang namanya watak seseorang itu nggak bisa diubah, bahkan walaupun sudah melewati kesulitan dan diselamatkan oleh orang lain. Seburuk itu orang tua mereka. Benar-benar ending yang mengejutkan. Karena aku sempat berpikir bahwa akhirnya mereka akan berubah dan hidup sebagai keluarga yang bahagia selama-lamanya.

Walaupun aku bisa mengerti bagaimana perasaan dan memahami pilihan-pilihan langkah yang diambil Tim, tapi aku lebih suka sama suaranya Jane. Bahkan saat dia berbicara. Apalagi saat dia menyanyi. Aku juga dibuat jatuh cinta sama soundtrack lagunya, "I Choose."

Setelah aku mencari di google ternyata pengisi suaranya memang seorang penyanyi. Oalah, pantesan! Alessia Cara. Ternyata selain bersuara bagus, lagu-lagunya yang lain juga keren banget menurutku. Liriknya punya makna, alunan musiknya enak banget di telingaku. Terutama yang "Scars To Your Beautiful."

Dari hasil googling juga katanya ini masuk dalam kategori anime comedy. Walaupun sepanjang film aku nggak bisa ketawa. Rasanya miris, sedih, dan pengen nangis. Sayangnya karena nggak ada adegan nangis-nangis ala drama, jadi ya, nggak bisa nangis. Mungkin ini yang disebut dark joke.

Secara keseluruhan film animasi ini masih cocok sih ditonton anak-anak, karena visualnya yang penuh warna, tokohnya anak-anak, walaupun konfliknya cukup kelam tapi nggak rumit, dan menampilkan hal-hal yang disukai anak-anak seperti permen. Tapi butuh ditemani orang tua yang bisa mengarahkan mana yang patut ditiru dan mana yang hanya boleh sekedar menjadi tontonan bukan tuntunan.

Film ini bagus, walaupun untuk anak-anak butuh bimbingan orang tua. Aku suka. Walaupun nggak berhasil bikin tertawa.





Monday, 13 September 2021

Teruntuk Mas Pendiam Berambut Sepundak

 Judul: Teruntuk Mas Pendiam Berambut Sepundak 

Penulis: Wardha Amelia


Mas, jangan pergi 

Tetaplah di sini 

Walau tak bisa kumiliki

Setidaknya, izinkan aku melihatmu setiap hari 


Mungkin kau tak setampan Arjuna 

Tapi lengkungan senyummu menyejukkan jiwa 

Mungkin kau tak segagah perwira

Tapi santun sikapmu selalu kupuja


Aku terlanjur jatuh hati pada semua yang kau punya 

Selera dalam mendengarkan nada-nada yang tak biasa 

Caramu memandang dunia yang berbeda 

Sikapmu yang pendiam dan tak suka tebar pesona ke mana-mana 


Cemerlang sinar tatapan netra

Hidung mungil yang mempesona 

Rambut lembut yang terurai dengan indahnya 

Kulit coklat yang manis di pandang mata


Walau di luar sana banyak Pangeran dipuja ratusan wanita 

Aku tidaklah mudah ikut tergoda 

Walau tak sedikit yang mencoba tawarkan cinta 

Aku akan tetap memilih setia 


Pasuruan, 7 September 2021. 




Thursday, 2 September 2021

Boneka Buaya - Amalia Wardhani

 


Gadis berambut sepundak itu berdiri di depan cermin, melihat pantulan parasnya. Gaun merah selutut membungkus tubuh mungilnya, dengan pulasan make up natural ala Korea, dan sepatu hak tinggi favorit, dia bersiap menemui seseorang.


"Lisa, mau ke mana sih, kok rapi banget?" tanya seseorang yang tiba-tiba menghambur ke kamarnya.


"Ketemu Riko."


"Kakak kan sudah bilang, Riko itu buaya ...." 


Belum selesai kalimat itu meluncur dari bibir mungil sang kakak perempuan, Melissa segera menginterupsi.


"Aku bisa jaga diri kok, Kak."


***


🎶 seperti mendapat boneka terindah

waktu aku mengenalmu

kubuat kau buta dengan pesonaku

tersesat kau karena silaumu 🎶


Suara penyanyi Cafe mengalun merdu, menemani Melissa menunggu lelaki yang oleh sang kakak dijuluki sebagai buaya darat. Bukannya dia tak percaya, bahkan sesungguhnya sudah tahu sendiri. Namun, ada satu alasan mengapa harus menemui sang don juan malam ini.


Setelah beberapa teguk cappuccino dinikmatinya, barulah tampak pria berkemeja hitam menghampirinya. "Maaf lama ya?" 


"Nggak apa-apa. Jangankan setengah jam, seratus tahun pun aku rela menunggumu, Riko." 


"Ah, bisa saja kamu." Riko tersenyum sambil mengusap bagian belakang kepalanya, dengan pipi yang sedikit bersemu. 


Ah, dasar playboy belum professional! Begitu saja langsung tersipu, batin Melissa. 


🎶kuajak kau melayang tinggi

dan kuhempaskan ke bumi🎶


"Riko, kamu masih kontakan sama Mahendra? Aku minta nomer hape dan alamat rumahnya dong!"


Perlahan wajah ceria pria berkulit coklat itu memudar, senyumnya tak lagi selebar semula. 


"Ngapain? Mau ngajak balikan? Jadi kamu benar-benar ada hubungan dengannya?" 


Seketika tawa Melissa meledak keras, sehingga beberapa pengunjung Cafe yang lain menoleh padanya. Dia menangkupkan tangan dan mengangguk kepada mereka, sebagai tanda maaf. 


"Aku nggak ada hubungan lebih dari teman dengannya, Riko. Itu hanya gosip. Lagi pula, aku kapan pernah bohong sama kamu sih ...." Masih ada sisa tawa ketika dia menjelaskan, sambil menggeleng-geleng. Riko ternyata masih belum melupakan gosip konyol di kampus mereka dua tahun lalu. 


"Terus buat apa?" Riko memajukan tubuhnya dan menopangkan dagu dengan tangan kiri di atas meja. 


"Aku butuh teman curhat." Melissa menghindari tatapan mata lelaki di hadapannya, dan sibuk mengamati lalu lalang pengunjung yang lain. 


"Kenapa bukan sama aku?" 


Yes! Si buaya masuk perangkap, batin gadis berkulit kuning langsat itu. 


"Kamu ingat waktu ngajak aku pameran fotografi tiga bulan yang lalu? Kita berpencar karena kamu deketin sahabatku, Rianti? Waktu itu aku kenalan dengan seorang fotografer pemula. Aku langsung terpesona sejak pertama kali melihat karyanya. Akhirnya kita ngobrol-ngobrol dan saling bertukar nomor ponsel. Kebetulan Oomku seorang fotografer. Aku sering minta tips dan trik pada beliau, kemudian membagikannya pada lelaki tersebut."


"Nama lelaki itu?" 


"Kamu tak perlu tahu, Riko! Cukup dengarkan aku ... atau aku pergi curhat sama Mahendra saja." Melissa pura-pura cemberut dan membuang muka. 


"Eh, iya ... ya ... maaf." 


"Awalnya niat aku ikhlas bantuin, karena dia pernah bilang ingin menjadi fotografer sukses supaya masa depan keponakannya lebih baik dari masa kecilnya dulu. Selain karena ingin punya temen sharing tentang fotografi, aku juga berharap punya teman bertukar pikiran lagi, seperti ke Mahendra dulu." Sepasang netra Melissa mulai tampak berkaca-kaca. 


"Tapi ternyata nggak ada yang bisa menggantikan Mahendra? Dan kamu tetap kangen dia gitu?" 


"Riko, please deh!" 


"Maaf, aku becanda." 


"Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja jantungku berdebar hanya karena dipanggil, Mel."


"Padahal Mahendra dulu juga manggil gitu kan, Lisa?" 


"Tapi waktu Mahendra yang memanggil, rasanya aku biasa saja." 


"Kalau gitu mulai sekarang aku manggilnya 'Mel' saja ya?" Riko mulai mencoba menggodanya. 


"Nggak ngaruh!" Seketika suara Melissa terdengar ketus. 


"Ya, nggak apa-apa kok. Aku memang nggak ada artinya buat kamu." Riko tiba-tiba memelas, dan mengharapkan Melissa akan iba padanya. 


Namun, bukan Melissa jika tak mampu menguasai situasi, "Maaf Riko, tapi kamu pasti spesial di mata seseorang yang mencintaimu. Perasaan kan nggak bisa dipaksain. Maaf ya ...." 


"Kamu nggak perlu minta maaf, aku mengerti kok."


"Sebenarnya aku juga nggak menginginkan punya perasaan seperti ini. Tiba-tiba aja aku nggak suka saat dia bahas mantannya, atau cewek-cewek yang dijadikan model dalam karya fotografi. Aku mencoba bertahan, dan berharap perasaan itu memudar seiring waktu, tapi justru semakin dalam. Harusnya nggak boleh. Ini melanggar janjiku sendiri. Karena aku duluan yang mengajaknya berteman. Nggak konsisten namanya."


"Memangnya apa sih kelebihan si fotografer misterius itu, sampai bikin kamu jadi kayak gini, Lisa?" 


"Menurutku dia ganteng, tapi nggak narsis, nggak suka upload-upload foto di sosial media. Dia cerdas, asik diajak ngobrol apapun. Selera musik, film, dan bacaannya bagus-bagus. Hasil karya fotografinya juga bagus, idenya keren. Selalu ada kisah menarik di balik hasil jepretannya. Dia sabar dan nggak kasar, nggak seperti Mahendra. Dia juga nggak genit atau godain cewek-cewek, kayak kamu."


"Aku kan masih jomblo. Nanti kalau sudah menikah, aku pasti setia." Riko berusaha membela diri. 


Namun, Melissa Justru tenggelam dalam ingatan tentang sang fotografer idamannya. "Dia satu-satunya cowok yang bisa membuatku nyaman." 


Setelah Melissa selesai menumpahkan kegundahan hatinya, Riko pun mengambil giliran untuk berkisah. Dia menceritakan tentang beberapa wanita yang sedang diincarnya. Namun, Melissa hanya mendengarkan setengah hati. 


"Terserah kamu saja sih, mau deketin dua atau bahkan sepuluh cewek sekalian. Asal jangan aku saja yang kamu jadikan target! Atau akan kusebarkan fotomu waktu sedang mencuri uang di kantor kita!" Seketika Melissa mengambil amplop coklat dari tasnya, dan melemparkan begitu saja di atas meja. Ada beberapa lembar foto bukti-bukti kejahatan Riko. 


"Heh, kapan kamu memotretnya?" Mata lelaki itu langsung melebar, dengan bibir setengah terbuka, dan keringat yang mulai tampak bermunculan di dahi lebarnya. 


"Rahasia." Melissa tersenyum dengan mengangkat dagu dan melipat kedua tangannya di dada. "Dan, aku masih punya copy-annya di laptop, flashdisk, bahkan akun penyimpanan online." 


"Lisa, ini nggak lucu!" 


"Kamu pikir lucu melihat sahabatku nyaman sama kamu, tapi kamu masih tebar pesona ke mana-mana?" 


"Apa maumu, Lisa?" 


"Jauhin Rianti! Jangan jadikan dia bonekamu!" 


"Kamu licik, Lisa!" 


Melissa tersenyum miring, kemudian pergi meninggalkan Riko yang masih termenung di meja Cafe. Di dalam mobil dia pun memutar lagu dari salah grup musik idolanya. 


🎶dan aku tertawa melihat kau luka

kau terpuruk di kakiku🎶


🎶ku ingin kau rasakan

apa yg dulu kau lakukan

ku ingin kau mengerti🎶


"Terima kasih, Riko. Setidaknya aku sudah lega bisa punya teman curhat. Aku nggak tega curhat pada Rianti yang sedang banyak masalah." 


🎶kuajak kau melayang tinggi

dan kuhempaskan ke bumi

kumainkan sesuka hati

lalu kau ku tinggal pergi🎶


Pasuruan, 13 Agustus 2021.

Sunday, 18 October 2020

Opini Pribadi Tentang Film Red Shoes and the Seven Dwarfs


Opini Pribadi Tentang Film "Red Shoes and the Seven Dwarfs" 

Film ini menceritakan tentang 7 pangeran yang justru membunuh sang putri karena penampilannya bagaikan penyihir. Ternyata sesungguhnya dia putri peri, yang kemudian mengutuk mereka menjadi kerdil dan hijau, seperti Shrek. Kutukannya bisa menghilang apabila seorang putri cantik yang menciumnya. 

Di tempat yang berbeda, Putri Salju menemukan sebuah pohon ajaib yang berbuah apel, dan apel tersebut bisa berubah menjadi sepasang sepatu ajaib. Saat sang putri memakainya, dia pun berubah menjadi wanita yang langsing dan cantik. Putri Salju melarikan diri dari ibu tirinya, penyihir Regina. Hingga tersesat ke rumah 7 kurcaci. Ketika ditanya, dia pun mengaku bernama Sepatu Merah, dan karena terpesona kecantikannya mereka memutuskan melindungi dan berjanji membantu menemukan ayahnya. Sebenarnya mereka berlomba membuatnya jatuh cinta, dan mencium salah satunya demi mematahkan kutukan. 

Seiring bergulirnya waktu, sang putri ternyata jatuh cinta pada Merlin, dan mereka berciuman, tetapi kutukannya tetap melekat. Merlin kecewa, tapi Sepatu Merah berkata bahwa dia mencintai Merlin apa adanya. Tiba-tiba raksasa jahat menyerang dan demi menyelamatkan Merlin, Sepatu Merah melepaskan sepatunya. Ternyata Merlin tidak bisa menerima Putri Salju, dia meninggalkan begitu saja. 

Waktu Merlin menyadari tentang perasaannya, dan kembali menemui Putri Salju, Regina sudah menangkapnya dan membawa anak tirinya kembali ke kastil, bahkan mengubahnya menjadi pohon ajaib yang berbuah apel dan berubah menjadi sepasang sepatu baru.

Dapatkah Merlin menyelamatkan sang putri? Silakan saksikan sendiri 😊🙏🏻

***  

Seandainya aku seorang ibu, aku rasa nggak akan mengizinkan putra dan putriku nonton film ini sebelum berusia di atas 13 tahun. Karena Pangeran dalam film ini bukan tokoh yang digambarkan sopan dan berwibawa seperti kebanyakan dongeng ala putri.

Merlin dan kawan-kawan digambarkan sebagai sosok yang suka modus. Bersikap baik karena ada maunya. Mengucapkan kata-kata rayuan yang menurut aku terdengar terlalu dewasa untuk didengar anak-anak, yaa.. Walaupun nggak ngomongin adegan panas menjurus porno, tapi tetap saja mengggelikan.

Tapi nggak buruk kok. Cuma mungkin ini bukan dongeng yang layak untuk anak. Mungkin lebih tepat untuk remaja. Karena sesungguhnya di akhir cerita, film ini menyimpan pesan moral yang sangat bagus. Tentang ketulusan, tanpa memandang penampilan fisik seseorang. Juga tentang penerimaan terhadap diri sendiri, bagaimana pun kondisi fisiknya.

Berbeda dengan dongeng Disney yang biasanya menonjolkan kekeluargaan. Seperti misalnya hubungan antara Anna dan Elsa yang begitu hangat dan membuatku terhanyut. Hubungan antara ayah dan anak (si Putri Salju), terkesan biasa aja. Berbeda juga dengan kisah Beauty and the Beast, yang seingatku hubungan antara ayah dan anaknya juga digambarkan dengan indah. Film ini menurutku lebih menonjolkan kisah cinta Merlin dan Putri Salju.

Secara visual, bagus. Gambarnya jernih. Pemandangan alam yang indah. Juga karakter kartun yang enak dilihat. Bahkan walaupun bertubuh gemuk, Putri Salju sesungguhnya tetap terlihat cantik. Begitu pula Merlin saat dalam kondisi dikutuk jadi kerdil. Malah unyu ngegemesin gimana gitu.

Menarik, bagus, tapi aku kurang suka. Mendingan nonton Film Elsa dan Anna dalam Frozen lagi ajalah...

Udah gitu aja. Ntar kalau panjang ada yang protes 😶

______ 

Red Shoes and the Seven Dwarfs merupakan film fantasi animasi komputer Korea Selatan tahun 2019, yang diproduksi oleh Locus Corporation. Ide cerita berdasarkan pada dongeng Jerman oleh Brothers Grimm dan namanya berasal dari dongeng Denmark The Red Shoes

Friday, 16 October 2020

Review Film "Perfect World"


Opini Pribadi Tentang Film "Perfect World" 

Sinopsis:

Film Perfect Word bercerita mengenai kisah seorang karyawati bernama Tsugumi Kawana (Hana Sugisaki), dia bekerja di sebuah perusahaan Interior, dan perusahaan tempatnya bekerja mendapatkan sebuah proyek di mana mengharuskan perusahaan tersebut bekerjasama dengan sebuah perusahaan arsitekur.

Ketika para karyawati membaca sebuah majalah tentang profil perusahaan arsitektur, mereka menemukan profil seorang pria tampan yang bernama Itsuki Ayukawa (Takanori Iwata). Mendengar obrolan itu, Tsugumi pun tertarik pada nama pria yang disebutkan, dan mencoba memastikan bahwa pria itu pernah dikenalnya, sehingga dia bergabung dalam pembicaraan. 

Ternyata pria yang diperbincangkan itu adalah seniornya waktu di SMA, lantas para rekan kerjanya menyarankan Tsugumi agar ikut serta dalam rapat dengan perusahaan arsitektur. 

Ketika dia dan rekan kerjanya itu tiba di sebuah restoran makanan Jepang, Tsugumi pun bertemu laki-laki yang dipujanya saat SMA, Itsuki Ayukawa sedang duduk bersender. Itsuki lantas menyapa Tsugumi, dan membuatnya sedikit tersipu.

Masih segar dalam ingatan Tsugumi, Itsuki adalah senior SMA yang juga merupakan cinta pertamanya. Dia masih terbayang jelas akan pertemuan mereka di perpustakaan waktu keduanya masih sama-sama bersekolah. 

Sekarang keduanya pun dipertemukan kembali setelah beberapa tahun berlalu. Sewaktu Tsugumi merasa masih mencintainya, dia sangat terkejut karena keadaan Itsuki sudah tidak seperti dulu lagi. Saat ini Itsuki selalu menggunakan kursi roda untuk mengerjakan berbagai aktivitasnya.

*** 

Secara visual emang nggak secemerlang film My Bossy Girlfriend, film Korea Selatan yang mengangkat tema kisah romantis tentang atlet cantik disabilitas. Wajah para pemainnya nggak seglowing artis Korsel. Dan entah kenapa gambarnya kelihatan kurang jernih, atau mungkin sengaja dibikin gitu biar terkesan klasik dan artistic? Entahlah... 

Tapi dari segi cerita, menurut aku lebih realistis. Mungkin karena seakan lebih mirip dengan budaya di Indonesia. Berbeda dengan Korea Selatan yang mungkin sudah sangat maju dan open minded. Walau menurut Kakak cantik yang merekomendasikan film ini, aslinya yang dialami oleh seseorang yang keadaannya seperti Itsuki itu lebih berat dan banyak tantangannya ketimbang yang digambarkan dalam film ini.

Dari segi akting menurut aku penjiwaannya bagus banget sih. Terkesan sungguh-sungguh. Nggak ada yang janggal. Dan sukses bikin aku terhanyut dalam cerita. Sampai beberapa kali ikutan nangis...

Sayangnya, mungkin karena aku bucin, jadi aku malah lebih fokus membayangkan menjadi Tsugumi.

Bagaimana jika kita pernah sangat mengagumi seseorang, dan tiba-tiba seseorang yang dikagumi itu tak lagi sesempurna dahulu? Masihkah cinta itu bersemi? Dan sanggupkah kita bertahan mendampingi bahkan di masa-masa sulitnya?

Nggak tau kenapa kebanyakan film Jepang, terutama yang ini, kesannya lebih sopan dari pada film-film Korea Selatan, kecuali kalau filmnya yang melenceng ya... Dan aku nggak pernah nonton film Jepang yang melenceng, jadi nggak tau. Terlebih film Korea Selatan yang aku tonton biasanya bukan tema cinta, soalnya aku jarang tertarik romance Korsel sih... 😅 ✌🏻 

Tsugumi berpakaian sopan. Lebih sering pake baju lengan panjang dan rok setumit. Nggak ada adegan panas. Bahkan ciumannya terkesan lembut, bukan yang kasar penuh napsu. Tapi lebih baik diskip aja kalau dinilai kurang pantas buat budaya Indonesia, yang penting kan inti ceritanya.

Saking sopannya, waktu bapaknya Tsugumi memohon Itsuki untuk menjauh dari anaknya dan mengakhiri hubungan keduanya, Beliau bahkan membungkuk dengan hormat pada Itsuki. Makanya kalau aku jadi Itsuki, aku pasti nggak tega juga untuk menolak permintaan si Bapak.

Jadi teringat seorang kakak cantik di Sosmed yang dulu kuliah di Jepang, dia bilang budaya di Jepang memang sopan-sopan. Bahkan dalam pemilihan kata-katanya. Makanya belajar Bahasa Jepang itu ternyata nggak semudah yang aku bayangkan.

***

Menarik, bagus, dan suka banget. Diborong semua sama film ini. Recommend. Dan, aku masih pengen nonton lagi... Tapi... Udah terlanjur kuhapus dan masih banyak daftar film lain yang harus ditonton 😅

Film ini udah lama nonton, tapi baru berani review sekarang karena waktu awal-awal selesai nonton aku tuh baper sangat. Jadi takut hasil reviewnya malah kebanyakan curhat soal cinta-cintaan pribadi ... 🤣🤣🤣

Intinya: "Cinta tetaplah cinta, bagaimana pun kondisi dia yang kita cintai ..."

Wednesday, 14 October 2020

Opini Pribadi Tentang Film "Ananta"

Opini Pribadi Tentang Film "Ananta" 

Dibuka dengan adegan demi adegan yang berbeda dari versi novel, membuat aku tertarik untuk mengikuti cerita dan menebak-nebak endingnya. 

Peringatan: Banyak Spoiler! 🙅🏻

Film ini berkisah mengenai Tania yang antisosial dan suka mengkhayal, dia biasa menuangkan hasil imajinasinya dalam sebuah gambar yang dibuat sembarangan. Bukan hanya di kertas-kertas asal-asalan, dia bahkan mengambar di tembok saat ibunya dipanggil ke ruang kepala sekolah. Tania juga jutek banget dan bersikap semaunya sendiri, sampai membuat seluruh siswa di sekolah takut berinteraksi dengannya. 

Sifat antisosial Tania juga berlaku di rumah. Dia tinggal sendiri di paviliun samping rumahnya, dan selalu menghabiskan waktu untuk menuangkan imajinasi lewat lukisan di sana. Sehingga ibu dan dua kakaknya sering kesulitan memahami sifat Tania. Diceritakan bahwa satu-satunya sosok yang mampu memahami hobi Tania dalam melukis hanyalah ayahnya, yang sudah almarhum. Dia juga hanya berinteraksi dengan Bi Eha yang selalu melayani segala kebutuhan, termasuk memasak nasi kerak, satu-satunya makanan favoritnya.

Hingga tiba-tiba hadir sosok siswa baru di sekolah Tania, bernama Ananta Prahadi. Laki-laki yang memiliki nama panggilan Anta ini, mengaku berasal dari Subang dan bersikap tampak lugu di hadapan semua orang. Anta akhirnya duduk sebangku dengan Tania. Sifat Anta yang norak dan sok akrab membuatnya kesal, apalagi saat si anak baru tersebut berani memanggilnya dengan sebutan Teteh Tatan. Tapi tiba-tiba dia mengajak Tania makan nasi kerak, sehingga gadis itu mulai bersikap baik. Perlahan-lahan dengan kesabaran dan kesungguhan Anta, akhirnya Tania luluh juga. Sehingga keduanya pun menjalin kerja sama. Tania melukis, sedangkan Anta mengumpulkan, merawat, dan memasarkan berbagai hasil lukisan Tania kepada publik. 

Di saat semuanya baik-baik saja, tiba-tiba Anta menghilang 
Sekembalinya dari kepergian dia justru memperkenalkan sesosok laki-laki yang nyaris sempurna bernama Pierre, pria tampan blasteran Prancis yang tinggal di Yogyakarta. Anta pun perlahan-lahan berusaha menjauh dari kehidupan Tania dan menyisakan tanda tanya besar. 

***

Ada banyak perbedaan dengan novel, tapi menurutku malah lebih realistis. 

Di novel diceritakan bahwa Tania anak tengah, tapi di film dia merupakan anak terakhir. Menurut pengamatan aku, anak tengah itu biasanya justru yang paling ramah dan pandai bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Maklum saja, dia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan kakak dan adiknya. Jadi menurut pengamatanku jarang banget ada anak tengah yang berkelakuan seaneh Tania dalam versi novel. Dengan catatan, itu di sekitarku saja. Mungkin di sekitar si penulis bisa jadi berbeda. 

Sedangkan kalau anak terakhir, emang kadang gitu sih. Banyak yang merasa terasing, karena jarak usia dengan orang tuanya jauh banget, jadi merasa saling kesulitan untuk memahami. Cenderung bersikap semaunya sendiri karena kakaknya banyak dituntut mengalah dan melindungi. Ini emang nggak berlaku untuk semua, tapi kebanyakan. Ini juga hanya berdasarkan hasil pengamatan di sekitar aku. Siapa tahu, di sekitar penulis keadaannya berbeda... 

Di novel diceritakan bahwa ayahnya masih hidup, dan Tania berubah sejak kepergian kakak pertamanya karena kuliah di luar negeri, satu-satunya sosok yang bisa mengendalikan sikap buruk Tania. Tapi di film ditunjukkan bahwa hanya sang ayah yang mampu memahami Tania, dan beliau telah wafat. Menurut aku sih, sosok ayah lebih meyakinkan untuk berpengaruh dalam hidup seseorang dari pada kakak, kecuali kalau ada alasan yang sangat kuat mendasarinya, yang sayangnya di novel tidak digambarkan dengan sangat baik dan meyakinkanku. 

Sosok Pierre yang di novel digambarkan sebagai pria yang tinggal di luar negeri. Sedangkan di film tinggal di Yogyakarta. Setidaknya kalau tinggal di Yogyakarta, aku bisa maklum kenapa dia punya kesabaran seluas angkasa dalam menghadapi sifat Tania. Soalnya laki-laki Yogyakarta kebanyakan sabar-sabar euy. Bukan mau rasis atau gimana sih. Tapi faktanya emang banyak laki-laki Yogyakarta yang menurut aku sabar-sabar. Bahkan walaupun bukan berasal dari daerah setempat, kalau udah tinggal di sana biasanya sabar. Mungkin pengaruh lingkungan. Entah... Tapi nggak semua orang pastinya. Bisa jadi hanya karena aku yang belum kenalan sama yang tipe laki-laki senggol bacok 😅

Lewat novel dan film ini, aku akhirnya mengerti kenapa tokoh utama sebuah sinetron selalu digambarkan sebagai sosok yang sangat baik dan lemah tak berdaya. Yaitu biar orang-orang pada simpati, sehingga ikut merasakan duka saat si tokoh utama menderita. Ya, karena saat menikmati novel dan film dengan karakter yang seenaknya sendiri kayak si Tania gini, rasa simpati itu nggak kerasa. 

Atau mungkin karena aku yang kurang peka? Soalnya banyak yang bilang mereka nangis dan sedih saat nonton ini. 

Dan, ternyata endingnya... Eh, nggak boleh banyak spoiler 🤣🤣🤣

Mungkin, kalau film atau novelnya diambil dari sudut pandang Ananta Prahadi, pendapatku bakal lain. Banyak cewek-cewek yang mengaku baper karena kesungguhan Anta memahami Tania. Kalau boleh jujur, aku juga sedikit baper versi filmnya, hanya di saat-saat pertama kali Anta berusaha mendekati Tania. Waktu Anta langsung cerita sendiri walaupun Tania nggak nanya, itu emang sweet banget... 

Setidaknya film ini dihiasi oleh pemain-pemain bintang papan atas, baik yang sekarang sedang naik daun, atau yang dulu pernah populer di jamannya. Jadi selain bisa melepas rindu dengan artis idola, secara akting juga nggak mengecewakan dan sangat bisa dinikmati. 

Film "Ananta" dibintangi oleh Michelle Ziudith yang selama ini sudah sering nongol di berbagai film melodrama romantis, yang menurut aku ala-ala FTV. Di sini dia berperan sebagai Tania. Kemudian Ananta Prahadi diperankan oleh Fero Walandouw, yang katanya sih sering nongol di film-film horor Indonesia. Sedangkan Pierre diperankan oleh Nino Fernandez, yang pernah membintangi film "Wa'alaikumsallam Paris".

Ditambah dengan kehadiran artis Nova Eliza yang berperan sebagai ibunya, Roy Sungkono kakak pertama, dan Jihane Almira sebagai kakak kedua. Anjasmara, sebagai sang ayah. Ada juga Asri Welas, sebagai Bi Eha. Bahkan ibu gurunya adalah Astrid Tiar. 

Lokasi syuting yang katanya di Puncak, juga setidaknya menghasilkan gambar yang indah dan memanjakan mata. Lumayan buat hiburan.

Jadi, bagus filmnya. Menarik. Tapi aku kurang suka. Aku benci endingnya, dan ada satu adegan yang membuatku merasa seperti nonton film thriller. Soalnya aku takut banget sama darah. Bikin ngilu... 🙈