Sebuah mobil carry merah meluncur dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang identik dengan patung sapinya. Tak lupa, dilengkapi musik campursari mengiringi perjalanan tersebut.
"Wes tak cubo ngelale'ake jenengmu soko atiku ... sak tenane aku ora ngapusi ... isih tresno sliramu ...." Sambil menyetir Arjuna bersenandung dengan lirih, tak peduli ponakan di sampingnya cemberut sepanjang jalan. Dia sedang menikmati sedikit keberuntungan karena hari ini mobil berwarna merah milik sang kakak tidak mogok di jalan, tak seperti biasanya.
Laki-laki bermur tiga puluhan itu memang suka sekali menyayikan lagu-lagu Didi Kempot. Saat ini dia sedang melakukan perjalanan dari minimarket satu ke minimarket lainnya, sebagai distributor beras kemasan. Ditemani oleh keponakannya Lili, dia berkeliling di sekitar wilayah Kabupaten Boyolali.
Sepanjang perjalanan, entah sudah berapa kali Lili mengomel, "Oom kenapa sih sukanya lagu sedih-sedih?"
"Hahaha ... Biar plong rasanya. Mengungkapkan isi hatiku."
"Ish, drama!"
"Kamu belum pernah ngerasain sih. Masih bocah!" sahutnya sambil mengacak-acak rambut gadis berponi depan serapi pagar tersebut.
***
Kurang lebih sudah sepuluh tahun berlalu, tetapi sepotong kenangan tentang lagu Didi Kempot masih terpatri di ruang memori Lili. Walaupun dulu suka mengejek sang paman karena selera musiknya, diam-diam sampai detik ini Lili masih mengagumi laki-laki itu. Bahkan mendambakan memiliki pasangan yang sepertinya, rela bekerja apa saja, dan tidak terjebak gengsi seperti kebanyakan pemuda di luar sana yang merupakan lulusan sarjana.
Barangkali itulah alasan Lili akhirnya menerima cinta seorang dosen muda, yang di sela-sela kesibukannya mengajar, masih menyempatkan diri memperjuangkan pendidikan anak-anak usia dini, serta membela hak-hak para penyandang disabilitas.
Seperti mendapatkan karma, dulu dulu dia meledek sang paman, dan dengan tenang hanya dijawab, "kamu belum ngerasain."
Beberapa tahun kemudian, Didi Kempot booming lagi, dan dijuluki The Father of Broken Heart, lagu-lagunya diputar di mana-mana. Sewaktu kebetulan gadis berambut sepundak itu sedang galau, karena kisah cintanya harus kandas, lirik tersebut dijadikannya status Facebook.
Tentu saja ini kesempatan bagi sang paman untuk meledek balik. Namun, tidak dilakukannya. Dengan bijak, pria yang kini telah dikaruniai dua putra kecil yang rupawan seperti dirinya itu, memilih menggunggah sebingkai foto saat ponakannya masih bertubuh mungil dan berada di pangkuannya. Dengan dikelilingi oleh ponakan-ponakan yang lain. Seolah-olah ingin mengatakan, bahwa "apapun yang terjadi, akan selalu ada kami yang menyayangimu setulus hati."

No comments:
Post a Comment