Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Sunday, 2 October 2016

Lagu Cinta Untukmu




Sepasang bola mataku menatap lurus ke arah jendela yang sedang terbuka, tetapi pikiran ini jauh melayang. Aku terbiasa menikmati suasana sore menjelang senja dengan duduk di atas kursi rodaku dan mendekatkannya pada jendela.

“Hey! Melamunkan siapa sih?” tiba-tiba Arni datang dan mengagetkanku. Gadis berkulit kuning langsat dan berambut sebahu itu merupakan tetangga sekaligus sahabatku sejak kecil.

“Tidak kok.” aku berdusta. Tentu saja yang sesungguhnya aku sedang memikirkan Mas Wiraditya, seorang calon dokter hewan yang baru beberapa minggu lalu Arni perkenalkan padaku. Arni mengenalnya karena mereka tergabung dalam salah satu komunitas di Surabaya. Komunitas pecinta musik jazz yang awalnya terbentuk dari social media. Mereka sama-sama berasal dari kota santri ini, Pasuruan. Itu sebabnya mereka akrab, walau tujuan mereka ke kota pahlawan itu berbeda. Arni bekerja, sedang Mas Wiraditya kuliah.

Ingatanku kembali melayang pada sore itu. arni tiba-tiba datang bersamanya. Katanya, pria itu mengagumi cerpen-cerpen yang aku tulis dengan tangan dan kuberikan pada sahabatku sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh. Buku berisi kumpulan cerpen yang dibawa Arni tertinggal di sebuah meja cafe. Mas Wiraditya yang bertugas membayar pesanan ke kasir harus pulang paling akhir. Dia kemudian menemukan buku itu tergeletak. Dia membawa pulang ke kost dan semalaman mengagumi karya itu. Setelah perkenalan itu Mas Wiraditya mengenalkanku pada pamannya, pemilik sebuah penerbitan indie. Kumpulan cerpenku akhirnya dibukukan.

Meski hanya lulusan SMA, Arni punya hobi membaca. Sehingga mereka selalu punya topik untuk dibicarakan kala bertemu, dan aku selalu merasa tersisih dengan sendirinya ketika kami bertiga sedang bersama.

Jelas saja aku mengagumi pria tinggi dan gagah itu. Dia baik, cerdas dan keren. Dia bahkan tak hanya bersuara bagus, tapi pintar menciptakan lagu romantis.

“Pasti melamunkan Mas Wiraditya, kan?”

“Yee, enak saja! Memangnya kamu?” lagi-lagi aku berusaha menjodohkan mereka.

“Jiah! Lagi-lagi. Kenapa sih kamu selalu berusaha menjodohkanku dengannya?” Tentu saja karena aku berpikir kau lebih pantas bersanding dengannya, ketimbang diriku. Aku hanyalah gadis yang tak sempurna karena mengalami Cerebral Palsy.

“Karena kalian terlihat sangat cocok. Punya hobi yang sama, dan nyambung membicarakan banyak hal.”

“Hahaha! Alasan yang konyol. Terlalu klise.”

“Tapi itu kenyataan. Saat jalan bertiga kalian selalu membicarakan bahkan memperdebatkan hal-hal yang tak kumengerti.”

“Kemudian kamu memilih memisah dari kami dan pura-pura sibuk sendiri? Kamu tahu, di saat seperti itu dia selalu curi-curi kesempatan untuk memandangimu?”

“Aku tidak yakin. Mana mungkin dia bakal suka sama cewek yang tidak pernah sekolah dan tak secerdas dia?” Tak jarang di tengah sunyinya malam aku menyesalkan keputusan kedua orangtua yang tak menyekolahkanku dengan alasan kondisiku ini.

“Pokoknya, Kamu harus tanya sendiri sama Mas Wiraditya sekarang. Titik!” Arni sepertinya mulai kehilangan kesabaran untuk berdebat. Dengan cepat dia mendorong kursi roda yang sedari tadi kududukki agar berjalan sekehendaknya.

“Ni, kita mau kemana sih?”

“Ke rumah Mas Wiraditya.” Aku mencoba memberontak usai mendengarnya, tetapi tenaga ini kalah kuat dengannya. Begitulah Arni, kalau sudah bulat keputusannya, tak ada yang dapat mengganggu serta menggugat.

“Kalian ini kenapa?” tanya Kakak, yang tadi sedang asik menonton TV, tiba-tiba menoleh ke arah kami yang sedang melewatinya. Arni mendekati, lalu berbisik di telinganya. Tak lama kemudian mereka bersekongkol memasukkanku ke dalam mobil yang selanjutnya dikemudikan oleh Kakak. Sudah kuduga Kakak yang telah lama diam-diam menaruh hati pada Arni pasti akan menuruti apapun maunya.

***

“Kita kesini nganterin Qaila. Katanya, dia mau ngomong sesuatu,” kata Arni, tak lama setelah Mas Wiraditya mempersilakan kami bertiga duduk di ruang tamu. Kakak lalu menggandeng tangan Arni, mengajaknya ke luar. Rasa canggung, bingung, dan malu, campur aduk menjadi satu, membuat kedua mataku nggak berani menatapnya yang saat ini duduk di hadapanku.

“La, sebenarnya…, kamu mau ngomong apa?” tanyanya, setelah sekian lama kami saling diam. Dia mendekat, membuat jantung ini berdetak semakin cepat. Lalu duduk di sampingku.

“La…,” panggilnya, terdengar sangat lembut. Aduh, harus jawab apa? Harus bilang sesuatu! Apapun itu, yang jelas nggak bakal berkata seperti yang Arni suruh. Karena aku nggak mau mempermalukan diri, dengan menyatakan cinta terlebih dahulu.

“Mmm… Aku mau minta dibuatin lagu. Bisa kan, Mas?” aku memberanikan diri mengangkat kepala, kemudian menatapnya sambil tersenyum.

“Lagu?” Dia menatapku dalam-dalam.

“Iya. Sebuah lagu yang sesuai suasana hatiku, mungkin. Pokoknya tentang akulah,” jawabku, asal. Dia terdiam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian senyumnya mengembang. Memunculkan tanda tanya di benakku.

“Aku udah punya…, tapi… Ah, kurasa lebih baik kamu dengar sendiri aja. Biar tahu lagu itu tentang apa. Bentar ya?” Dia pergi meninggalkanku sendiri, memasuki ruangan lain dari rumahnya. Lalu datang sembari membawa gitar, dan saat di sampingku dia memainkannya untukku.

_
Tak sadarkah engkau
Tak tahukah engkau
Aku selalu perhatikanmu
Karena kau mentari di hatiku
Karena kau pelangi di jiwaku
Aku mencintaimu apa adanya
Di mataku kaulah yang paling sempurna
Oh… Oh… Qaila

Dia mengalunkan lagu itu penuh penghayatan, sembari selalu tersenyum dan menatapku penuh arti. Aku membalas senyumannya. Rasa bahagia menyelimuti hati ini. Nggak disangka dia bisa seromantis ini padaku.

“Sebenarnya, aku udah lama nyiptain lagu ini. Tapi aku nggak berani menyanyikannya untukmu,” ucapnya, setelah berhenti menyanyi dan memetik gitar. Sedang aku, saat ini sibuk mengusap air mata yang berjatuhan karena terharu. “Lalu, pas kamu bilang minta lagu. Aku berusaha memberanikan diri menyanyikannya untukmu.”

“Ciye…” Huh! Kakak dan Arni tiba-tiba datang, dan merusak suasana yang tadinya begitu romantis.

Tamat

Friday, 30 September 2016

Bukan Kotak-Kotak Cinta



Pulang sekolah langsung ke mall, itulah kebiasaanku dan gang, The Candy Purple. Biasanya sih kami Cuma sekedar keliling buat cuci mata sambil ngobrol dan ngemil. Mau bagaimana lagi, kalau masih jam segini kami pulang, biasanya di rumah Cuma ketemu bibi dan mbak, asisten rumah tangga keluarga kami. Membosankan.

Mendadak mataku tertarik memandangi sebuah toko yang memajang kaus-kaus. Sepasang kaki ini melangkah lincah mengikuti kata hati.

“Eh, Lidya! Kamu mau ke mana?” Terdengar suara Tania yang cempreng itu, jauh di belakangku. Tapi aku tidak ingin menoleh sedikit pun. Fokusku terlanjur tertuju hanya pada sebuah kaus warna ungu yang terpajang manis di toko yang mulai kumasuki.

“Mungkin Lidya pengin beli kaus,” sahut Cindy, masih terdengar sayup-sayup.
Aku mulai menyentuh kainnya yang lembut. Wah, kaus ini begitu keren! Walau berwarna ungu tapi modelnya tidak aneh-aneh. Aku yakin cowok yang mengenakan kaus ini akan tetap tampak macho. Apalagi jika cowok itu adalah, Pratama Wicaksana.

Dari kecil aku memanggilnya Tama. Entah sudah menjadi takdir Tuhan, atau Cuma kebetulan, sejak TK kami selalu dipertemukan. Sekelas, bahkan sebangku. Padahal, sumpah! Kami tak pernah janjian. Saling memberi tahu akan bersekolah di mana saja, kami selalu menjadikannya sebuah rahasia.

“Ada deh!” jawabku saat lulus SMP dulu, sok misterius, sewaktu dia tanya.

“Yasudah! Aku juga nggak bakal kasih tahu ke mana aku lanjutin SMA.” Dia juga tak mau kalah.

Kalau saja tidak ingat di sekitar kami ada banyak murid, aku pasti sudah langsung memeluknya ketika berjumpa di hari pertama MOS. Akhirnya kami pun hanya bisa salaman doang waktu itu.

Aneh tapi nyata, begitulah teman-teman menjuluki jenis persahabatan kami. Kami punya sifat, hobi, dan bakat yang berbeda satu sama lain.

Dia cowok yang tenang dan penyendiri. Anak-anak sesekolah kami biasa memberi dia julukan cowok perpus. Karena dia hobinya nongkrong di perpus setiap jam istirahat. Beda denganku. Ke perpus hanya saat ada dua hal penting. Pertama, mencari bahan-bahan buat mengerjakan tugas. Kedua, mencari Tama.

Aku ini lebih suka ke mall, nongkrong di kantin, nonton konser band indie. Yah, pokoknya tempat-tempat yang ramelah. Karena aku suka punya banyak teman dan melakukan banyak aktifitas seru. Aku tak suka sendiri dan merasa sepi.

Sejak dulu kami sama berprestasi, tapi di bidang yang berbeda. Dia selalu rangking satu, menang lomba cerdas cermat, olimpiade sains, atau apalah itu namanya. Aku kurang paham. Sedangkan aku. Lebih aktif di bidang seni, terutama menari dan memainkan alat musik.

“Kamu mau beliin ini buat Tama?” tanya Cindy, menyadarkanku dari lamunan.

“Ciee, kaget. Melamunkan Tama ya?” goda Tania, yang mendadak kepalanya menyembul di tengah-tengah kami.

Kulirik Cindy tampak geleng-geleng kepala. Entah karena kelakuan Tania barusan, atau karena tak habis pikir dengan diriku.

Cewek berambut pendek itu selalu berkomentar aku ini cewek teraneh yang pernah dikenalnya. Aku ini cantik, populer, dan punya banyak penggemar, tapi masih mau-maunya berteman dengan cowok cupu macam Tama. Aku Cuma bisa tersenyum. Entah, walau temanku banyak, tapi hanya saat bersamanya aku mendapat rasa nyaman.

Waktu jalan-jalan sama dia, aku bebas pakai kaus dan jeans doang. Tak perlu pakai aksesoris macam-macam biar kelihatan hits. Tak butuh make up tebel atau tipis-tipis biar tampak menarik.

Sementara Tania, cewek berambut sepundak sama sepertiku, selalu menuduhku sebagai cewek yang tak bersyukur. Cowok-cowok ganteng dan popular incaran para cewek di sekolah, dengan seenaknya aku tolak mentah-mentah. Dan, aku malah mencurahkan perhatian ke cowok cupu yang dari sejak SMP sudah kuharapkan untuk jadi pacar.

Mereka memang ganteng, tapi tak bisa diandalkan. Mengajariku menyelesaikan tugas sekolah yang sulit kukerjakan saja mereka juga tidak bisa. Kalau Tama pasti bisa. Dia bahkan rela mengajariku berkali-kali sampai aku benar-benar paham dengan sangat sabar.

Jalan-jalan sama cowok-cowok itu juga tak seseru saat bersama Tama. Apapun yang kami temui selalu jadi bahan pembicaraan yang sangat menarik. Misalnya saat melihat bunga, Tama akan cerita berbagai jenis bunga, dan beragam hal menarik tentang bunga yang dia ketahui dari hasil membaca buku.

Cowok-cowok itu bisanya cuma merayu saja. Mereka bilang aku cantik, rambutku hitam berkilau, aku pandai menari, sekilas aku mirip Chealsea Olivia, dan semacamnya. Aku sudah kenyang dengan pujian itu sejak kecil.
 
“Eh! Malah melamun lagi. Udah mau sore nih. Ayo pulang!” Tania menepuk pundakku. Aku tersadar kembali.

Saat mbak-mbak di bagian kasir sedang menghitung belanjaanku, sekilas aku melihat sosok yang tak asing lagi. Sosok itu sedang lewat depan toko, dan dengan jelas aku dapat melihat sosoknya melalui jendela kaca toko yang lebar.

“Ayah ... dan, Tante Mer?”

***


Aku membuang setumpuk surat dan hadiah berupa berlembar-lembar kartu bertuliskan puisi-puisi tidak penting ke tempat sampah. Benda-benda tak berharga ini dengan seenaknya saja mereka jejalkan ke dalam loker sekolahku. Membuatku kesal saja.


“Ciee ..., yang punya penggemar rahasia. Pagi-pagi sudah sibuk bersihin loker.” Suara dan kemunculan Tama yang mendadak mengejutkanku. “Kenapa tidak kamu coba balas salah satunya? Siapa tahu ada yang cocok denganmu.”


Belum sempat aku bernafas dengan teratur setelah dikagetkan dengan kehadirannya, sekarang cowok berkacamata itu malah mengucapkan sesuatu yang membuatku sesak nafas. Cowok yang menurutku mirip vocalis Yovie and Nuno itu tampak begitu santai mengatakannya, seakan tak takut kehilanganku. Benarkah itu?


Setelah berhasil mengatur nafas dan menata perasaan, aku hanya tertawa dan menuduhnya becanda.


“Aku serius Lid. Aku rasa kamu mungkin akan cocok dengan Yugo. Kalian sama-sama popular, sama-sama berbakat di bidang seni, dan ...”


“Ganteng dan cantik,” sahutku, kesal. “Aku sudah muak mendengarnya! Kenapa sih, cinta harus dikotak-kotakkan berdasarkan kesamaan?”


Tama terdiam. Aku pun memilih meninggalkannya begitu saja.

Saat sudah jauh darinya aku baru ingat sesuatu. Aku mengeluarkan sesuatu dari tas, lalu berbalik arah menuju ruang loker. Kuharap Tama masih di sana.


Aku terlambat! Kulihat Tama sudah dihampiri oleh Siska. Siska tampak seolah mengajaknya berbicara tentang sesuatu, dan Tama seolah menanggapinya dengan antusias. Keduanya kemudian terlihat seperti sedang berjalan beriringan sambil menenteng dan mendiskusikan sebuah buku bersama.

Aku berbalik, dan berjalan ke kelas dengan lunglai. Buat Mas Supir saja kalau begitu kausnya.

***

Tama jadian sama Siska. Berita itu menyebar dengan cepat seantero sekolahan. Mereka sangat serasi, begitulah komentar anak-anak yang sedang berbisik-bisik membicarakan tentang ini di kantin. Membuat kupingku panas mendengarnya.

Siska tak secantik aku, kata Tania dan Cindy. Kurasa mereka hanya mencoba menghibur saja. Cewek bertubuh mungil itu punya senyum yang manis, kulit kuning langsat, dan rambut yang sama berkilaunya dengan punyaku. Menurutku, dia cuma lebih cuek saja dengan penampilan, sehingga tak bisa tampil menawan. Jika mau sedikit berdandan, dia pasti bisa terlihat rupawan.

Siska terkenal sebagai siswa teladan. Dia rajin dan selalu mendapat rangking dua di kelas. Hanya setingkat di bawah Tama. Berbeda denganku, yang setiap tahun selalu dapat rangking sepuluh.

Kini aku merasa benar-benar sebagai cewek yang bodoh. Sudah tidak pintar dalam pelajaran, tidak pintar pula mengendalikan perasaan. Aargh ...!

“Sabar ya, Lid?” Tania menyentuh pundakku dengan lembut. Aku berupaya keras untuk tersenyum padanya.

“Aku baik-baik saja kok. Ini memang yang terbaik untuk kami ...,” tukasku, sembari menghapus air mata yang mulai jatuh. Kedua sahabat terbaikku itu memelukku. Aku bersyukur masih punya mereka.

***

Dulu, kebetulan demi kebetulan yang sering kami alami membuatku sering bertanya-tanya, apakah aku dan Tama memang ditakdirkan untuk bersama. Malam ini pertanyaanku terjawab sudah. Kami memang ditakdirkan untuk bersama.

“Sayang, kenalkan ... ini Tante Meriana. Dan ini ...,”

“Tama Ayah. Anak Tante Mer, sekaligus teman sebangku Lidya sejak TK.”

“Ooh ... kalian sudah saling kenal rupanya.” Ayah dan Tante Mer tampak bahagia. Sementara Tama tersenyum kikuk. “Maafkan Ayah ya? Saking sibuknya bekerja sampai tidak kenal satu pun teman kamu.”

“Padahal dari sejak TK Tama sudah sering mengajak Lidya main dan belajar bareng. Aku tidak menyangka kalau dia akan jadi ...” Tante Mer menggantungkan ucapannya.

Tapi aku, Ayah, dan Tama jelas sudah sangat paham maksudnya. Untuk sejenak suasana di meja makan terasa canggung.

Dalam diam aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang. Ruang makan keluarga Tama. Tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku berkunjung ke mari. Sekitar tiga bulan lalu. Sejak dulu Tante Mer pandai memilih warna cat dinding dan propertinya, hingga suasana di ruang ini selalu nyaman dan hangat. Waktu kecil aku sering berkhayal bisa setiap hari makan di ruangan ini, menjadi bagian dari keluarga Tama. Khayalanku menjelma nyata. Tapi tak berjalan sesuai harapan.

Masih terekam jelas dalam ingatanku, semalam Ayah mengatakan akan menikah lagi dalam waktu dekat. Meski dalam hati aku tak rela ada seseorang yang akan menggantikan posisi Almarhumah Ibu, tapi aku terpaksa berkata sebaliknya. Karena aku hanya ingin Ayah bahagia.

Aku cewek mall, sedangkan Tama si cowok perpus. Kami memang berbeda, tapi selalu ditakdirkan untuk bersama. Namun bukan untuk saling mencintai. Cinta memang tidak berkotak-kotak , tetapi kini kami ditakdirkan untuk bersaudara.

Tuesday, 16 August 2016

Pamitan



Gadis manis itu bernama Putri dan dia memiliki kekasih bernama Putra. Terdengar serasi bukan? Tetapi takdir ternyata memiliki rencana lain. Mereka tidak digariskan untuk berjodoh.
"Aku minta putus, Mas," ucap Putri tak lama setelah mereka sama-sama duduk berhadapan dalam sebuah cafe.
Mendadak keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Apa salahku Put?" Putra buka suara.
"Tak ada," jawabnya singkat.
"Lalu?"
"Ibu sudah memilihkan jodoh untukku dan aku dipaksa menerimanya."
Mereka sama-sama terdiam kembali untuk waktu yang cukup lama.
"Baiklah, terserah kau saja! Tapi ada syaratnya,"
jawab Putra
"Apa?" tanya Putri.
"Pamitlah dulu pada ibu ... "


***


Azan asar baru saja berkumandang di masjid kampung Kali Pasir. Tak lama tampak anak-anak kecil
berlarian menuju masjid untuk salat berjamaah, kemudian mengaji. Sesekali tampak ibu-ibu berada di halaman rumah. Ada yang menyapu, menyirami tanaman, atau sekedar mengobrol—menggunjingkan aib tetangga. Sepasang muda-mudi yang berboncengan dengan motor tiba-tiba melintas. Kemudian berhenti di sebuah rumah yang temboknya masih batu bata, tak diselimuti adonan semen.

"Ayo masuk Dek!" ajak Putra. Dengan takut-takut, Putri pun melangkah perlahan. Putri begitu membenci hari ini, jam ini, detik ini. Kebenciannya semakin dalam saat mendapati sesosok ibu paruh baya yang seketika menyambutnya ramah.


Tidak. Bukan ibu itu yang dibencinya, melainkan keadaannya, dirinya sendiri dan pilihannya kini.
Mereka bertiga duduk di atas kursi tamu berwarna usang.


"Bu, maaf! Saya ke sini mau pamitan," ucap Putri membuka pembicaraan. Hati Putri serasa teriris oleh ucapannya sendiri.
"Pamitan? Memangnya kau mau ke mana, Nduk?" tanya Ibu.
Putri tak sanggup menjawab. Dia tertunduk pilu. Menyembunyikan air mata yang berjatuhan dari pandangancalon ibu mertuanya itu.
"Maksud Putri, dia ingin mengakhiri hubungan kami
Bu." Putra angkat bicara.


Seketika waktu seolah berhenti berputar. Mereka terdiam tak bergerak. Semua membisu membeku. Beberapa detik lagi, Putri dan Putra akan menjadi mantan kekasih.
"Kenapa Nduk?" tanya Ibu.


Putri tak sanggup lagi menjawab. Air matanya justru mengalir semakin deras. Dengan sabar, Ibu masih menunggu penjelasan Putri yang masih menunduk pilu. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit terlewati tanpa jawaban dari Putri.

Ibu bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang menjadi alasan Putri memilih jalan ini. Mungkinkah anak kesayangannya—Putra—telah melukai hati kecilnya? Atau memiliki kesalahan yang sulit Putri ampuni? Atau mungkin dirinyalah yang justru bersalah? Mungkin karena dia terlalu cerewet dan banyak menuntut.
"Putri, jadi wanita itu harus pintar memasak agar suami senang dan betah berada di rumah," ucapnya suatu ketika kala dia dan Putri sedang memasak di dapur.
"Iya Bu," jawab gadis itu lembut.
"Eh, itu cara memotong wortelnya salah. Harusnya begini Nduk!" lanjutnya, sambil mencontohkan. Putri menurut saja tak banyak membantah.


Ibu sudah tahu dari Putra jika latar belakang Putri dan Putra jauh berbeda. Putri anak sepasang pengusaha mebel, sedangkan Putra hanya anak seorang janda. Buruh cuci pula. Namun seingatnya, dulu Ibu sudah pernah bicara pada Putri tentang ini, "Nduk, masmu itu anak orang ndak
punya. Ibunya ini kerjaannya cuma buruh cuci. Kamu yakin nantinya tak bakal menyesal?"


Kala itu Putri menggeleng-geleng cepat. Lalu menjawab dengan mantap, "Tidak Bu. Saya akan menerima Mas Putra dan Ibu apa adanya."
"Baiklah Nduk, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Yang jelas Ibu sudah jujur padamu dari
awal."


Ibu kembali tersadar dari lamunannya. Tampak di depannya seorang gadis berambut panjang itu masih tertunduk. Tetapi, kini suara isak tangisnya terdengar jelas. Di sebelahnya, tampak anak lelakinya sedang memandangi kekasihnya dengan tatapan khawatir tanpa bisa berbuat apa-apa. Sungguh berat baginya melepaskan Putri. Gadis manis yang sebenarnya rapuh dan manja, tetapi punya kesungguhan besar untuk menjadi calon istri yang baik bagi anaknya.

***

"Ibu lagi ngapain?" tanyanya dengan nada suaranya yang khas, terdengar sedikit manja.
"Cuci baju Nduk."
"Wah, aku bantuin ya Bu? Sekalian aku mau belajar mencuci baju. Kata Mas kalau nanti aku jadi istrinya, aku harus bisa nyuci karena di rumah ini belum ada mesin cuci," tawarnya.
Ibu serasa ingin menangis mendengar ucapan polos Putri saat itu. Antara kasihan karena melihat gadis berkulit kuning langsat itu harus menerima kenyataan tak menyenangkan ini. Sekaligus terharu sebab gadis itu tampak bersungguh-sungguh akan menerima anaknya dengan apa adanya. Bahkan, berusaha menjadi pendamping yang selalu siap menemani dan membantunya menjalani kehidupan.

***

Ibu rasa tak baik terus menyiksa gadis itu dengan menantikan jawaban yang sulit dia katakan. Memang di dunia ini ada beberapa hal yang tak selamanya harus diketahui namun harus dipahami.
"Yasudah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu Nduk. Ibu akan mencoba mengerti. Mungkin kalian memang tak jodoh. Ibu hanya minta, tolong tetap jaga
silaturahmi di antara kita!" pintanya.
"Baik Bu," sahut Putri dengan terbata-bata diselipi suara isakan.

Sejujurnya, amat sulit bagi Ibu untuk merelakan Putri. Dia terlanjur menyayanginya seperti anaknya sendiri. Terlanjur yakin jika gadis pemilik lesung pipit itu suatu ketika akan jadi menantunya, istri dari anak tunggalnya, dan ibu dari cucu-cucunya kelak

.
Tak tega melihat kekasihnya terlalu lama menderita karena rasa bersalah, dilema, atau entah apalagi yang dirinya tak tahu, Putra memutuskan mengajak Putri berpamitan pada ibunya untuk kemudian mengantarnya pulang.
"Apapun yang terjadi, Ibu tetap akan menganggapmu seperti anak Ibu sendiri, Nduk," ucap ibu sembari mengelus lembut kepala Putri, ketika gadis itu mencium tangannya saat bersalaman. "Ibu minta kalau kamu menikah nanti, entah dengan siapapun itu, kabar-kabari Ibu ya Nduk!"

Usai melepaskan salaman itu, Putri berusaha menjawab, "Iya Bu." Masih terselip suara isakan dari ucapannya. Membuat hati Ibu merasa iba. Putra pun akhirnya mengajak Putri agar cepat-cepat. Karena semakin lama mereka di sini, dia pikir mungkin hati gadis itu akan semakin teriris pedih.


"Yasudah, Bu. Kami berangkat ya?" pamitnya sambil menggenggam tangan Putri sebagai isyarat untuk mengajak gadis itu segera pergi. Ibu hanya mampu mengangguk, lalu mengiringi kepergian mereka hingga depan pintu.

Ibu masih terpaku menyaksikan kepergian mereka. Pikiran Ibu kembali melayang jauh menuju berjuta-juta detik yang telah berlalu.


***

Sepasang muda-mudi berseragam SMA berdiri di depan pintu yang baru saja dibukakannya. Si pria tersenyum malu-malu, sedangkan si gadis langsung tertunduk takut-takut.
“Bu, ini Putri." Putra memperkenalkan gadis itu pada Ibu. Sosok gadis yang belakangan seringkali diceritakannya.

Putra bukan tergolong anak yang manja sebenarnya, tetapi dia cukup terbuka dan akrab dengan ibunya. Tak heran bila dia sering menceritakan kedekatannya dengan beberapa teman di sekolahnya.
Ibu sudah lama punya firasat jika Putri akan jadi lebih dari sebatas teman bagi anaknya.kini, saat melihat mereka, kini Ibu tahu jika firasatnya benar.
"Oh, ini toh yang namanya Putri?" Nada suara Ibu terdengar ramah, memberi Putri keyakinan untuk memberanikan diri mengangkat wajahnya. Seketika senyuman hangat itu menyambut pandangan matanya.


"Iya Tante."
"Panggil ibu saja biar terdengar lebih akrab!" pintanya.

Saturday, 30 July 2016

Saling Mengerti Tanpa Harus Memiliki

Riany mengerling genit, lalu meninggalkan gadis manis yang telah dianggapnya adik sendiri itu di depan pintu indekos. Kini gadis bernama Amel itu hanya berjarak kurang dari semeter dengan pria tinggi gagah yang akan ditemuinya sore ini, Satrio. Laptop di pangkuannya terus mengoceh tiada henti, sebab dia menggunakan aplikasi pembaca layar. Dia penyandang difabel juga seperti Amel. Bedanya, Amel penyandang Cerebral Palsy, sedangkan dia penyandang tunanetra. Alasan kuat Riany bersikeras menjodohkan mereka, agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Sama seperti Rainy dan kekasihnya. Sebab kekasihnya juga seorang penyandang tunanetra, sementara dia sendiri penyandang polio di kaki sebelah kiri.

"Mas," panggilnya, takut-takut.

Satrio berusaha menoleh ke arah sumber suara, "Iya .... Siapa ya?"

"Amel Mas. Masih ingat?"

"Ooh ..., yang kemarin bertemu di pertemuan anggota komunitas difabel?"

Mendengar Amel mengiyakan, Satrio buru-buru meletakkan laptopnya di meja yang terletak di samping ranjang yang didudukinya. Lalu berjalan mendekati gadis berkulit kuning langsat itu. Amel dibuat takjub, melihat Satrio menghampirinya tanpa bantuan tongkat.

 “Ada yang bisa saya bantu Mel?” tanyanya, saat telah duduk di atas bangku semen, di dekat Amel yang sedang duduk manis di atas kursi rodamya.

“Hmm .... Ini Mas, aku kan mau bikin novel, aku butuh bantuan untuk riset.” Amel kemudian menceritakan dengan detail konsep novel yang ingin ditulisnya. Amel tak menyangka Satrio ternyata begitu antusias mendengarkannya. Lalu entah siapa yang memulai, perbincangan pun mengalir ke mana-mana, hingga keluar dari jalur awalnya.

“Goodjob Riany!” Dari kejauhan Riany tersenyum senang menyaksikan mereka. Sebenarnya, sudah sejak lama Riany berusaha mencarikan jodoh untuk Amel. Tetapi  entah mengapa gadis bertubuh mungil itu selalu melontarkan banyak sekali alasan. Mulai dari masih ingin bebas, belum siap berumah tangga, masih ingin kuliah, mengejar cita-cita, dan beragam alasan semacamnya. Hingga suatu ketika, dari sekian banyak pria yang pernah dikenalkannya pada Amel, hanya pesona Satrio yang mampu meluluhkan keras hatinya.

***

“Mas, hari ini kita ngobrolnya di pinggir danau aja yuk!” ajak Amel. Kebetulan indekos satrio dekat dengan  danau.  Ini sudah keempat kalinya Amel mendekati Satrio tanpa minta antar Riany lagi. Dia datang menaiki mobil pribadi, bersama sang sopir yang selalu setia mengantar kemanapun dia mau. 

“Waduh, saya jarang ke sana, nggak hapal jalannya Mel. Nanti kalau nyemplung bagaimana? Hehe ....”

Amel menarik nafas dan mengembuskanya perlahan. Dia teringat saran dari penyiar favoritnya tadi malam dalam sebuah acara curhat radio. “pria cuek itu butuh didekati duluan. Lewat responnya nanti baru ketahuan bagaimana perasaannya. Kalau kamu tetap cuek, yah dianya bakalan cuekin kamu teruslah.”

Amel memberanikan diri untuk mencoba saran itu. “Kan ada aku Mas. Nanti kita saling bantu, Mas yang dorongin kursi roda, aku yang jadi penunjuk jalan. Hmm ... so sweet dibayanginnya.” Amel memejamkan mata. Takut sendiri pada bayangan akan respon Satrio nanti.

“Wah, ide bagus itu Mel.” Hatinya mencelos. Antara terkejut dan bahagia bercampur jadi satu. Tanpa menunggu lama Satrio langsung mengambil posisi di bagian belakang kusi roda amel, memegang pegangan di bagian belakang, dan menjalankannya pelan. Amel jadi agak salah tingkah dibuatnya. Belum pernah amel seagresif ini pada seorang pria, bahkan saat didekati duluan pun amel sering berusaha menghindar.

Sesampainya di pinggir danau, Satrio duduk di atas rerumputan. Amel bilang dia ingin turun juga. Satrio pun menyuruh Amel melompat turun dari kursi rodanya dan berjanji akan menangkap tubuhnya. Amel terjatuh tepat dalam pelukan Satrio. Bukanya merasa risih seperti yang sering dirasakannya bila tak sengaja tersentuh atau terpaksa bersentuhan dengan seorang pria, kini Amel justru merasa sangat nyaman..

***

“Tenang Ma, Satrio sama dia cuma berteman.” Seketika Amel menghentikan laju kursi rodanya ketika mendengar Satrio sedang berbicara dengan seseorang di telepon, dari dalam kamar. “Iya, apa yang adik lihat di danau itu memang Satrio. Iya ... sama Amel. Dan cuma teman Ma. Tak ada perasaan apa-apa sama dia.”

Amel memilih diam, menunggu hingga pembicaraan itu diakhiri. Dan berencana baru akan mengetuk pintu yang setengah terbuka ini sekitar lima belas menit kemudian, lalu berpura-pura baru datang.

Sejujurnya Amel agak kecewa, karena Satrio tak berniat memperjuangkannya. Wanita mana coba yang tak ingin diperjuangkan? Namun, Amel harus tahu diri jika dia memang bukan wanita yang dicintai Satrio.

“Maafkan saya Mel.”

“Maaf untuk apa?”

“Jangan pura-pura Mel. Saya tahu kamu tanpa sengaja sudah mendengar pembicaraan saya dan Mama. Saya hapal aroma parfummu. Saya tahu kamu sudah berada di teras ini sejak tadi. Maafkan saya yang tak bisa membelamu di depan Mama saya.”

“Kenapa aku harus dibela? Bukankah memang selama ini kita hanya berteman?”

“Hehe .... iya ya. Saya saja yang kegeeran berarti.”

“Tidak juga. Sebenarnya aku memang berniat mendekatimu, Mas. Belajar jadi adik yang baik mengikuti saran Kak Riany. Tapi jika kita hanya bisa saling cocok tanpa bisa saling cinta mau bagaimana lagi? Perasaan kan memang tek bisa dipaksakan ....” Amel memberanikan diri menggenggam tangan Satrio. “Ternyata Kak Riany benar Mas Satrio adalah  pria yang baik. Aku doakan semoga suatu saat nanti menemukan jodoh yang baik juga.”

Tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang mengalun merdu dari kamar sebelah. Tanpa Satrio tahu, diam-diam Amel menghapus sebutir air mata yang jatuh membasahi pipinya.

Kuterpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Kuharap kau tahu bahwa
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah kuselalu di dekatmu
(Raisa-Jatuh Hati)

TAMAT

Thursday, 17 December 2015

Menanti Dalam Diam

Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Zia, hari di mana dia bisa bebas menghabiskan waktu bersantai di rumah. Tidak seperti hari-hari biasa di mana dia harus disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Tiba-tiba kebahagiaannya  menyaksikan televisi di minggu pagi yang cerah ini harus terusik dengan perintah sang ibu.

"Zia, tolong belikan ibu bawang sama cabai di warung Mbak Nur," perintahnya, sambil mengulurkan dua lembar lima ribuan. Sebagai anak yang patuh zia pun terpaksa menuruti. Buru-buru dia masuk kamar, lalu menggeledah lemari, mencari baju untuk keluar. Entah mengapa pilihannya jatuh pada atasan lengan panjang, rok panjang, dan kerudung berwarna merah muda.

Dia bercermin sejenak, sebelum kemudian merasa mantap untuk keluar rumah. Sesampainya di warung Mbak Nur dia mendapati ibu-ibu berkerumun. Sebagian besar memegang dan memilih-milih apa yang akan dibeli sembari ngerumpi.

"Eh, tahu nggak Mbak, saudara sepupu kakek suamiku itu pensiunan walikota lho! mobilnya mewah, rumahnya megah ...," ujar seorang ibu sambil memilah sayur yang akan dibelinya.

"Kakeknya suamiku malah pensiunan gubernur," sahut ibu yang sedang menjumput bawang dan memasukkannya dalam kantong plastik.

Gara-gara obrolan tidak penting itu para ibu-ibu jadi lama sekali merubungi amben tempat Mbak Nur menggelar dagangan. membuat Zia yang baru saja datang harus rela menunggu sambil berdiri. Semenit, dua menit, hingga tiga menit berlalu ibu-ibu itu malah semakin heboh.

"Kakek saya lebih hebat lagi," dengan santainya Zia mulai buka suara, "sampai sekarang beliau masih berprofesi sebagai coverboy."

Semua terhenyak. "Ah, yang benar saja!"

"Beneran lho Bu. Kakekku dari pihak ayah itu sekarang jadi coverboy buku yasin," lanjut Zia, kemudian tertawa cekikikan. Semua ibu yang berada di sini memandangnya tak suka. Reaksi yang berbeda dengan yang diberikan teman-temannya di kampus kemarin saat dia melontarkan lelucon yang terinspirasi dari cerita-cerita lucu yang beredar di internet. Saat itu beberapa teman-temannya sedang saling membanggakan profesi dari pacarnya, atau orang tua pacarnya. Mungkin, selera humor anak muda dan ibu-ibu memang berbeda, bathinnya.

Akhirnya Zia cuma bisa cengar-cengir dan bilang, "Maaf, saya becanda."

"Pintar sekali kamu nduk. Apapun profesinya pada akhirnya semua manusia akan dipanggil yang kuasa. jabatan hanya sementara, untuk apa dibangga-banggakan sedemikian rupa." Terdengar suara yang tak asing lagi di telinga. Semua ibu tertunduk malu. Zia pun juga tertunduk, namun bukan malu melainkan bentuk sikap hormat pada beliau.

"Kamu lucu. Masih seperti  waktu kita kecil dulu," ucap pemuda yang melintas di depan Zia. Angin sejuk seakan berhembus lembut di dalam hati kala Zia mendengarnya.

"Ayo le!" Pak Haji mengajak cucunya segera berlalu. Cucunya pun segera bergegas. Kakek dan cucu itu pun pergi meninggalkan mereka.

"Tahu nggak Mbak, katanya tho Iqbal itu udah punya calon?" Deg, jantung Zia seakan berhenti berdetak. Hatinya yang tadi merasa terbang melayang, kini seakan langsung terhempas ke dalam jurang.

"Ya tahu dong mbak. Katanya, calonnya dari Jawa Tengah, mereka itu temen kuliah."

Tidak, tidak mungkin! Ibu-ibu tukang gosip itu pasti berbohong, bantahnya dalam hati. Tanpa menghiraukan mereka dia mendekati Mbak Nur, lalu menyebutkan apa saja yang dipesan sang ibu dari rumah. Zia tak peduli lagi dengan antrian.

"Dengar-dengar cucunya Kiyai lho," timpal ibu yang tepat berada di sebelahnya, membuat kuping Zia makin panas, dan hatinya seakan tersayat.  Dia langsung berlalu pergi, begitu mendapat apa yang dipesan ibunya.

***

Sepasang bocah sedang berdiri di pingir jalan, tepat di jembatan Rejoso. Suara riuhnya lalu-lalang kendaraan seakan tak terdengar oleh mereka. Sore ini adalah sore terakhir mereka berangkat dan pulang mengaji bersama.

"Jangan khawatirkan aku Zi. aku pasti akan baik-baik saja selama di pondok pesantren. Kata ibu yang punya ponpes itu masih saudara."

Namun air mata gadis kecil itu malah semakin deras mengalir, "Kalau Mas Iqbal mondok kita nggak bisa ketemu, main bersama, dan berangkat mengaji bersama lagi," isaknya, sambil menghapus air mata dengan kasar menggunakan sepasang tangan mungilnya, secara bergantian.

Entah sejak kapan, yang jelas sejak mereka berdua mulai mampu mengingat mereka selalu bersama. Mulai dari bermain, sekolah, hingga mengaji. Mereka baru akan berpisah ketika salah satu dari mereka memiliki kepentingan ke kamar mandi, atau saat hari mulai gelap dan sudah waktunya untuk terlelap. Selain karena rumah mereka berdekatan, kakek mereka yang sudah bersahabat sejak remaja menjadi sebab munculnya kesempatan-kesempatan untuk selalu bersama.

"Sabar ya, Zi ...," bujuknya, terdengar lembut. "Tenang saja. Setelah aku mondok, lalu kuliah, aku pasti kembali ke kampung ini. Aku akan menikah denganmu, dan kita akan punya  lebih banyak waktu bersama," janjinya, terdengar mantap. Zia terhenyak, tetapi senyuman iqbal berhasil meyakinkannya. Zia pun ikut tersenyum, lalu mengangguk, dan cepat-cepat menghapus air matanya.

Janji lelaki kecil berusia sepuluh tahun, mana bisa dipercaya? begitu kata teman-temannya. Namun zia tak pernah menghiraukannya, dia tetap selalu percaya. Meski, setelah pertemuan di jembatan itu tak pernah ada komunikasi lagi. Zia mencoba mengerti, seorang santri memang harus menjaga pandangan dan sikap di hadapan wanita yang bukan muhrimnya. Dan, walau dia bukan santriwati, tetapi dia juga melakukan hal serupa. Ini semua bukan demi Iqbal semata, tetapi demi kebaikannya sendiri pula, tekadnya dalam jiwa.

 "Janji lelaki usia sepuluh tahun memang tak bisa dipercaya," gumamnya, sarkastik. Dia bersiap membuang liontin pemberian Iqbal terakhir kali mereka bertemu dulu, menjatuhkannya ke bawah, ke arah aliran sungai warna kecoklatan yang mengalir tenang.

"Jangan membuang barang sembarangan nduk. Mubadzir..." suara itu membuatnya menghentikan gerakan tangannya. Tak lama dieratkannya pegangan tangannya pada liontin itu. Pelan-pelan ditarik kembali tangan kanannya mendekat ke tubuhnya yang mungil, dan berbalut baju muslim warna abu-abu. Zia hanya bisa menunduk.

Usai pamit Pak Haji melangkah pergi. Zia menoleh. Sesaat tatapan matanya bertemu dengan Iqbal. Zia buru-buru menunduk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari yang mulai akan terbenam.

***

"Dari mana saja nduk?" tanya ibu, begitu zia sampai di kamarnya.

"Jalan-jalan Bu."

"Wah, sayang sekali kamu tadi tak di rumah. Padahal tadi ada Iqbal lho." Itu kejadian yang tak ingin di dengarnya hari ini. Dia tak mau tahu semua hal yang berhubungan dengan Iqbal lagi sekarang.

"Yaudah, biarin," sahutnya, malas.

"Memangnya kamu tidak kangen? dulu kan kalian selalu ke mana-mana bersama," ucap ibu, dengan nada menggoda.

"Kangen juga percuma Bu. Bukankah sebentar lagi dia akan menikah?" ucap Zia, untuk pertama kalinya mencoba agak terbuka pada ibunya. Zia menghambur ke kasur, tidur tengkurap dan membenamkan muka ke tumpukan bantal.

"Kata siapa? kamu saja belum lulus kuliah kok."

"Memang apa hubungannya denganku?" Zia bangkit dari tidur, lalu duduk menghadap ibu. Ibu menghentikan kegiatannya membersihkan muka di depan cermin itu. Lalu berbalik menghadap anaknya.

"Tadi kan selesai Pak Haji menyampaikan tujuannya, Kakek iseng tanya, kebetulan pas itu Ibu lagi membawakan teh dan suguhan. Kakek tanya, lha Iqbal kapan menyusul? Pak Haji bilang, katanya dia mau nungguin cucu kamu. terus Ibu lihat Iqbal senyum-senyum dan menunduk malu."

"Jadi, yang mau nikah sebentar lagi bukan Mas Iqbal?"

"Akmal, sepupunya Iqbal. Orang-orang kan sering salah sebut atau salah kira. Karena selain namanya terdengar mirip, mukanya juga persis, dan usianya cuma beda beberapa bulan."

Zia pun tersenyum sembari menengok kembali liontin yang ada di lehernya.

Ungaran,17  Desember 2015

Thursday, 9 July 2015

Sahabat Maya

Pria bertubuh jangkung dan berkulit pucat itu terbangun dari tidurnya di tengah malam yang dingin, tepat ketika kedua jarum jam di dinding kamarnya menunjuk ke angka 12. Buru-buru dia singkap selimutnya yang tebal dan lembut, lalu berlari mendekati meja, dan kemudian membuka dan menyalakan notebook. Sebuah pesan sudah masuk ke akun facebooknya.
From: Karunia Putri
Selamat hari jadi persahabatan kita
13/05/2015 00:05

Tanggal 13 bulan Mei. Tepat satu tahun persahabatan mereka. Dua insan yang jauh berbeda, tetapi telah mengikat janji saling mengerti dan menerima. Walau mereka hanya dapat berjumpa lewat dunia maya. Eddy masih ingat betul ketika suatu malam sepulang dari main futsal  dengan teman-temannya dia memutuskan untuk bersantai di kamar dan membuka akun  Facebooknya. Tiba-tiba dia mendapati seorang wanita mengiriminya permintaan pertemanan sekaligus pesan pribadi.

Karunia Putri
Boleh kenalan nggak?

Eddy Widodo
Boleh.

Karunia Putri
Hai, namaku Nia. Aku dari Palembang. Aku seorang penyandang tuna rungu.

 Belum pernah sebelumnya dia berkenalan dengan teman dari dunia maya yang sejujur ini. Bahkan saat baru saja berkenalan. Eddy pun menanggapinya dengan penuh antusias.

Ketika itu, baru beberapa hari yang lalu Nia dibuatkan akun Facebook oleh salah satu saudara sepupunya yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah. Daftar temannya di Facebook  masih sedikit dan semuanya hanyalah saudara-saudara sepupunya yang kebanyakan rese dan susah nyambung ketika diajak bicara. Sebab menurutnya tak ada satu pun dari mereka yang mau berusaha memahaminya. Nia merasa sangat butuh teman yang bersedia diajaknya curhat, yang mau memahaminya, dan yang bisa membuatnya merasa nyaman. Dari situlah timbul keinginannya untuk mencoba mencari kenalan baru lewat Facebook.

Seiring berjalannya waktu Nia merasa beruntung bisa berkenalan dengan Eddy. Baginya Eddy nyambung banget saat diajaknya bercerita tentang banyak hal. Dari mulai hal-hal yang ringan dan seru, seperti misalnya tentang film, musik, atau pun acara televisi. Kadang selera mereka bisa kebetulan sama, tetapi saat berbeda Nia berusaha memahaminya. Tak jarang mereka juga membahas tema yang berat dan rahasia. Seperti tentang kisah kehidupan mereka masing-masing. Nia bisa merasa sangat nyaman ketika curhat dengan Eddy, karena dia tak pernah menghakiminya ketika dia menceritakan kekurangan atau pun  kesalahannya, dia hanya mengingatkan dan memberi saran dengan pemilihan kata-kata yang halus dan tak terkesan menggurui.

Semua mengalir begitu saja. Berkenalan, saling berkomunikasi, curhat, dan menanyakan kabar setiap hari. Hingga empat bulan kemudian Eddy mendadak  mengirimkan pesan yang membuat Nia merasa dunia seolah berhenti berputar. Nia tak pernah menyangka dia akan mendapatkan pesan semacam ini.

Eddy Widodo
Maukah kau jadi sahabatku untuk selamanya?

 Tanpa pikir panjang Nia langsung mengangguk berkali-kali. Lalu tertawa sendiri menyadari kekonyolannya. Bukan anggukan yang Eddy butuhkan, karena dia tak akan dapat melihatnya. Nia pun cepat-cepat mengetik balasan. Hanya satu kata, iya. Dan sejak itu mereka sepakat untuk menjadi sahabat selamanya.

Selama ini mereka hanya berkomunikasi dengan bertukar teks. Hingga suatu hari Nia mengenalkan Eddy pada mamak-nya via telepon. Sejak itu Eddy sering menelepon. Karena tak dapat mendengar, gadis berambut panjang itu hanya bisa menyaksikan mamaknya dan Eddy mengobrol di telepon. Lalu usai telepon mamaknya akan menceritakan apa saja yang mereka bicarakan tadi. Mamaknya hanya perlu berbicara pelan-pelan, sebab sang anak mampu membaca gerak bibir.

“Sepertinya dia pemuda yang baik. Dia jujur dan terbuka sekali dengan Mamak.” Nia tersenyum senang, karena Mamak juga menerima dan bahkan menyukai Eddy.
Semakin hari Eddy menjadi sangat akrab dan sering mengobrol dengan mamak-nya Nia. Hingga dia mengganggap mamak-nya Nia sudah seperti ibunya sendiri. Bahkan, tanpa malu-malu Eddy pernah curhat ke Mamak jika dia menyukai Nia dan sangat berharap suatu saat dapat berjumpa dengannya.

Bersambung........