Showing posts with label tentang pangeran berbatik ungu. Show all posts
Showing posts with label tentang pangeran berbatik ungu. Show all posts

Wednesday, 9 November 2016

Love Notes 02-10 November


Dear my prince purple, titip salam untuk Ibunda, yang telah rela mempertaruhkan nyawanya demi menghadirkan pria seromantis kamu ke dunia.
(02/11)

Jika ditanya mengapa aku bisa jatuh cinta padamu, aku tak mampu menjawabnya. Namun mengapa aku bertahan menantimu, dengan yakin akan aku jawab, karena aku cuma bisa percaya kamu.
_
Bagiku dalam komitmen itu yang terpenting bukan tentang publikasi, tetapi tentang bagaimana kita bisa saling memahami.
(04/11)

Niat awalku mendekatimu adalah agar dapat mencuri ilmumu. Namun jika pada akhirnya aku bisa mencuri hatimu pula, aku pasti akan sangat bahagia. Akan aku jaga sebaik-baiknya.
_
Setia itu bukan berarti selalu bersama, yang terpenting bagaimana kita saling menjaga cinta hanya untuk satu nama.
(05/11)

Cinta itu bukan tentang siapa yang terbaik, tetapi tentang seseorang yang tetap bertahan walau sering kali kita tak bisa jadi yang terbaik.
_
Hanya dengan melihat senyummu saja aku sudah merasa tenang. Maka jika kau tersenyum untukku, rasanya seperti terbang melayang.
_
Hanya dengan mendengar suara tawamu hari-hariku jadi lebih ceria. Maka bila aku yang berhasil membuatmu tertawa, hidupku akan terasa penuh warna.
(07/11)

Thursday, 29 September 2016

Hampa

Berjubah salju
memasung sejuta rindu
demi kebebasan semu

Tetapi semua terasa hampa
tanpa makna dan rasa
bagai kertas putih kosong

Aman dari kecewa
tak akan terluka
semua baik-baik saja

Tetapi bunga-bunga pun tak mekar
kembang api tak jua meletup-letup
hampa ...



 Ungaran
 30 September 2015 pukul 5:47

Motivacinta



Hadirmu mengubah segala
Lewat tutur saran penuh makna
Aku termotivasi menantang dunia

Tak perlu motivator ternama
Dari lakumu aku berkaca
Perlahan aku mulai terbawa

Kala kubungkam telinga
Kututup sepasang mata
Dan kuabaikan pesan mereka
Kunikmati kasihmu secara nyata

Kasihmu bukan sekedar untaian kata
Kasihmu merupa tindakan nyata
Kasihmu menjelma sikap penuh makna
Sulit terlihat, namun nyata terasa

Ingin kunikmati kasihmu selamanya
Hanya untuk hatiku semata
Sebab rayumu bagaikan mantra
Walau hanya sekali kau ucap, hatiku terjerat

Monday, 26 September 2016

Calon Menantu Idaman Bunda



“Tadi aku yang nambahin uangnya lho ... jadi aku boleh kasih topping susunya banyak-banyak.” Bocah itu mengungkit uangnya yang tersita, saat kami menikmati sepotong roti tawar dengan topping susu kental manis coklat, sambil menyaksikan drama India di layar kaca. Padahal juga tak seberapa jumlahnya, palingan cuma beberapa ratusan rupiah.

“Halah, uangmu juga palingan sisa uang saku pemberian Ayah,” saya menyahut. Karena kesal saya sedikit menggodanya. “Nggak mungkin juga dari Syla.”

Sayang, dia menanggapi terlalu serius. Dia balik menggoda. “Yee, Syla lagi, memangnya Mbak Lia ...” Saya mulai was-was dia akan mengungkapkan hasil temuannya. Ponsel saya memang tak terkunci. Dia pun bebas meminjam kapan saja, asal sedang tidak saya pakai. Bisa dibilang pula sangat jarang digunakan untuk berkomunikasi dengan lawan jenis. Terlalu mudah baginya menemukan fakta tersebut.

 “Ngarang!” Saya mengelak.

Ayah membela, “Iya, tidak boleh itu mengarang seenaknya.”

 Tapi sahutan Bunda dari kamar membuat diri ini tersentak. “Jauh tho? Calonnya Mbak Lia orang jauh ...”

Saya hanya mampu tertawa menutupi kegugupan, “Haha ... Bunda jangan percaya Isal.”

 Saya menoleh ke Ayah, beliau tidak bereaksi seperti yang saya takutkan. Tetap terlihat santai. Sepertinya baik Bunda, maupun Ayah sudah mengetahui semuanya, namun tidak marah, tak juga melarang.

Saya mulai menduga Bunda pasti tahu sosok yang adik maksud. Selama ini saya memang selalu menceritakan siapa saja teman dekat saya di rumah biru. Karena memang saya tak pernah berniat macam-macam. Jadi, apa yang perlu disembunyikan?

***

“Wah, undangan dari Bu Ama bagus ya! Pakai aplikasi MomentCam ini kayaknya.” Saya begitu antusias melihat-lihat undangan pernikahan yang Bunda dapat dari rekan kerjanya sesama guru. Siang itu Bunda baru pulang dari mengajar.

“Tadi Bunda ditanyain Bu Mur, ‘Bu Sri katanya bentar lagi bakal mantu juga ya?’ Bunda cuma jawab, ‘Doanya saja, Bu.’

Masih ditanya lagi, ‘Memang sudah punya calon mantu, Bu?’ Bunda cuma senyum.

Eeeh ... lha masih saja ditanyai lagi, ‘Calonnya orang mana, Bu?’ Bunda jawab saja, ‘Jauh katanya, Bu. Masih saya pikir-pikir dulu,’ Lalu Bunda ambil tas dan berlalu pergi.”

“Bundaaa ...” Saya cemberut, “Lia kan belum punya calon Bunda.”

“Suka-suka Bunda dong ...  Bunda yang ditanyain,” jawab Bunda sambil berlalu pergi. Saya pun hanya dapat geleng-geleng kepala sembari menata kembali beberapa undangan yang berserakan di kasur saya.

Sejenak saya tersenyum, lalu membatin, “Aamiin ...” Banyak yang bilang ucapan adalah do’a, saya harap ucapan Bunda jadi do’a baik untuk saya.

***

Sudah sering saya mendengar petuah orang bijak, cerita dari mulut ke mulut, menyaksikan film atau drama seri, maupun membaca beragam buku yang menyimpulkan  bahwa firasat seorang bunda tak pernah salah. Terutama dalam hal segala sesuatu yang terbaik untuk si buah hati.

Sebab itulah pendapat dan respon Bunda selalu jadi bahan pertimbangan saya. Bunda begitu terbuka pada saya, curhat apa saja. Tetapi saya sebaliknya. Sehingga seringkali saya hanya bertanya sepotong-sepotong, dan diiringi canda malu-malu.

“Bunda masih ingat Mbak nunu? Itu lho yang pernah ke sini dengan ketua komunitas difabel, Om Dandy dan juga Mas Hedy. Dia sekarang sudah punya anak lho. Suaminya berasal dari kota yang terkenal dengan oleh-oleh roti unyil. Terus yang baru-baru ini habis nikah Mbak Lani di kabupaten tetangga sebelah itu nikahnya sama orang dari kota sentra industri. Kalau misalnya ... misalnya doang sih, hehe ... aku menikah dengan orang dari provinsi yang sama  juga boleh tidak?”tanya saya suatu ketika, kala kami sedang berbincang santai di kamar saya.

“Terserah kamu saja,” jawab Bunda kala itu.

Kadang, saya memang berpikir terlalu kejauhan. Menurut saya lebih baik jika dari sekarang saya tahu tanda-tanda seorang pria akan diterima atau ditolak Bunda untuk jadi menantunya, dari pada kelak sudah terlanjur jauh melangkah restu tak juga didapat. Maka dari itu, saya selalu mengenalkan dengan terbuka profil pria mana pun yang dekat dengan saya, bahkan walau sebatas teman biasa.

Kabar baiknya, ada seseorang yang sepertinya dapat lima puluh persen tanda-tanda penerimaan bunda. Semoga ini pertanda baik. Aamiin ...

Pas, 27/09/2016

*Sebagian nama tokoh disamarkan karena belum meminta ijin dari yang bersangkutan untuk menyantumkan namanya.

Monday, 19 September 2016

Jangan Pernah Pergi



Akun rumah birumu tetap sama
Sederet angka ponselmu tak berganti
Kuharap begitu jua hatimu

Aku terlanjur nyaman dengan ikatan kita
Tanpamu aku serupa gadis cilik yang tersesat
Gelisah, serba salah, dan tak tahu ke mana harus melangkah

Kau ikat aku bukan dengan rayuan mesra
Melainkan kebersediaanmu merunduk untukku
Mendukung si gadis penakut ini meraih mimpi-mimpi

Kau kunci hatiku dengan pengertianmu yang tak berbatas
Seakan kesabaranmu menghadapi ulahku seluas lautan
Persediaan maaf untukku seolah sebanyak taburan bintang di angkasa

Aku takluk bukan semata karena pesona rupa
Tapi ketulusan yang terbingkai dalam senyummu

Aku terpukau bukan karena bergengsinya profesimu
Melainkan bagaimana kesungguhanmu mengemban amanah

Dulu, aku terpesona pada kecemerlangan pikiranmu
Kini, aku telah jatuh hati pada upayamu menyesuaikan denganku

Tak akan ada yang bisa sepertimu
Bersedia melakukan hal serupa itu untukku
Mengenalmu adalah anugerah bagiku
Halal dalam pelukan kasihmu adalah cita-citaku

Tetaplah di sisiku
Jangan tinggalkanku sendiri
Temani aku melalui berbagai tantangan kehidupan ....

Thursday, 11 August 2016

Merpati



Dalam anganku engkau merpati
Walau disergap rayuan sejuta bidadari
Namun tak mudah jatuh hati

Dalam harapku dikau merpati
Bebas terbang jauh dan tinggi
Namun tak akan alpa pulang kembali

Dalam mimpi aku menjelma rumah
Tempat merpati pulang melepas lelah ...