Wednesday, 15 July 2026

Lirik yang Baru Kupahami

 



Sebuah mobil carry merah meluncur dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang identik dengan patung sapinya. Tak lupa, dilengkapi musik campursari mengiringi perjalanan tersebut. 


"Wes tak cubo ngelale'ake jenengmu soko atiku ... sak tenane aku ora ngapusi  ... isih tresno sliramu ...." Sambil menyetir Arjuna bersenandung dengan lirih, tak peduli ponakan di sampingnya cemberut sepanjang jalan. Dia sedang menikmati sedikit keberuntungan karena hari ini mobil berwarna merah milik sang kakak tidak mogok di jalan, tak seperti biasanya. 


Laki-laki bermur tiga puluhan itu memang suka sekali menyayikan lagu-lagu Didi Kempot. Saat ini dia sedang melakukan perjalanan dari minimarket satu ke minimarket lainnya, sebagai distributor beras kemasan. Ditemani oleh keponakannya Lili, dia berkeliling di sekitar wilayah Kabupaten Boyolali. 


Sepanjang perjalanan, entah sudah berapa kali Lili mengomel, "Oom kenapa sih sukanya lagu sedih-sedih?" 


"Hahaha ... Biar plong rasanya. Mengungkapkan isi hatiku." 


"Ish, drama!" 


"Kamu belum pernah ngerasain sih. Masih bocah!" sahutnya sambil mengacak-acak rambut gadis berponi depan serapi pagar tersebut. 


***


Kurang lebih sudah sepuluh tahun berlalu, tetapi sepotong kenangan tentang lagu Didi Kempot masih terpatri di ruang memori Lili. Walaupun dulu suka mengejek sang paman karena selera musiknya, diam-diam sampai detik ini Lili masih mengagumi laki-laki itu. Bahkan mendambakan memiliki pasangan yang sepertinya, rela bekerja apa saja, dan tidak terjebak gengsi seperti kebanyakan pemuda di luar sana yang merupakan lulusan sarjana.


Barangkali itulah alasan Lili akhirnya menerima cinta seorang dosen muda, yang di sela-sela kesibukannya mengajar, masih menyempatkan diri memperjuangkan pendidikan anak-anak usia dini, serta membela hak-hak para penyandang disabilitas. 


Seperti mendapatkan karma, dulu dulu dia meledek sang paman, dan dengan tenang hanya dijawab, "kamu belum ngerasain." 


Beberapa tahun kemudian, Didi Kempot booming lagi, dan dijuluki The Father of Broken Heart, lagu-lagunya diputar di mana-mana. Sewaktu kebetulan gadis berambut sepundak itu sedang galau, karena kisah cintanya harus kandas, lirik tersebut dijadikannya status Facebook.


Tentu saja ini kesempatan bagi sang paman untuk meledek balik. Namun, tidak dilakukannya. Dengan bijak, pria yang kini telah dikaruniai dua putra kecil yang rupawan seperti dirinya itu, memilih menggunggah sebingkai foto saat ponakannya masih bertubuh mungil dan berada di pangkuannya. Dengan dikelilingi oleh ponakan-ponakan yang lain. Seolah-olah ingin mengatakan, bahwa "apapun yang terjadi, akan selalu ada kami yang menyayangimu setulus hati."


Wednesday, 7 January 2026

Hanya Ingin Dia Bahagia

 



Entah apa yang terjadi sebelumnya, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah halaman rumah yang dipenuhi aneka tanaman cantik. Dengan penataan bergaya modern dan futuristik. Sebuah rumah besar dengan warna cat dinding putih seolah-olah menyambutku. Rumah yang dipenuhi dengan jendela-jendela besar dan sebuah pintu megah.


Seorang pria menyambutku dengan ramah, "Tuan sudah lama menunggu kedatangan Nona. Silakan masuk..."


Orang itu seolah sangat mengenaliku, sementara aku merasa belum pernah sekalipun bertemu dengannya.


Orang itu berkata lembut dan sopan, tapi membuatku bingung dan seolah baru saja menjadi pasien amnesia. Bagaimana tidak, dia membicarakan seseorang yang tidak kukenal, tapi seolah-olah orang itu menganggapku berharga. 


Bahwa seseorang yang dipanggilnya Tuan, selama ini tersiksa oleh kerinduan. Bahwa dia sebenarnya menyukaiku, tapi terbelenggu oleh ragu. Bahwa sikapnya yang menjauh adalah bentuk kebingungan, bukan penolakan. Bahwa dia menyesali perbuatannya, yang meninggalkanku tanpa sepatah kata.


Orang itu bahkan mempersilakan aku masuk, ke sebuah kamar yang katanya kamar tuan-nya. Kamar itu luas dan dipenuhi jendela-jendela besar, dengan nuansa yang serba putih. Dinding putih, sprei dan sarung bantal putih. Hanya beberapa perabotan yang warnanya berbeda, warna alami dari kayu. 


Ketika aku akhirnya menemukan pigura besar berisi foto keluarga, aku mematung. Tak sanggup lagi berkata-kata, bahkan untuk sekedar bernapas rasanya berat sekali. 


"Tuan yang berada di tengah, menggunakan kursi roda. Sama seperti Nona." 


Mendadak aku ingin menghilang tanpa jejak, ditelan bumi, atau bahkan diculik alien. Intinya tidak ingin di sini, menghadapi situasi seperti ini. 


Jiwaku seakan tersesat di ruang memori. Saat-saat di mana aku harus berkali-kali mendengar teman-teman mengulang pertanyaan, candaan, godaan, atau entah bagaimana mereka menyebutnya. Seolah-olah kalau diulang sering-sering, jawabannya, responnya, atau bahkan perasaannya akan berubah dengan sendirinya.


Padahal sejak awal aku yakin jawabannya, responnya, dan perasaannya akan tetap sama.


Aku melihat sosoknya seperti melihat seorang manusia pada umumnya. Biasa saja. Netral.


Tidak pernah membayangkan adegan romantis bersamanya, seperti yang sering muncul di film, novel, atau pun konten di media sosial.


Memang kadang mengkhawatirkannya.

Memang pernah berharap hidupnya baik-baik saja. Dan, sesekali ingin dia bahagia. Namun, apakah itu salah? Apakah aku harus berubah menjadi orang jahat biar tidak dituduh menyimpan rasa?


Aku ikut bahagia dengan semua yang dimilikinya. Kekayaan, kesuksesan, dan kemewahan yang ada. Namun, aku tidak ingin menjadi bagian hidupnya. Tak peduli sekaya apapun dia sekarang.


"Mungkin kamu salah orang. Saya tidak pernah mengenalnya," ucapku, dingin dan tegas.


Namun, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi, seketika aku menjadi panik dan takut bertemu dengannya.


Untunglah sebelum sempat bertemu dengannya, kesadaranku langsung kembali. Aku bernapas terengah-engah, sambil memandang langit-langit kamar yang warnanya telah memudar.


Syukurlah, yang tadi itu hanya mimpi...