Wednesday, 7 January 2026

Hanya Ingin Dia Bahagia

 



Entah apa yang terjadi sebelumnya, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah halaman rumah yang dipenuhi aneka tanaman cantik. Dengan penataan bergaya modern dan futuristik. Sebuah rumah besar dengan warna cat dinding putih seolah-olah menyambutku. Rumah yang dipenuhi dengan jendela-jendela besar dan sebuah pintu megah.


Seorang pria menyambutku dengan ramah, "Tuan sudah lama menunggu kedatangan Nona. Silakan masuk..."


Orang itu seolah sangat mengenaliku, sementara aku merasa belum pernah sekalipun bertemu dengannya.


Orang itu berkata lembut dan sopan, tapi membuatku bingung dan seolah baru saja menjadi pasien amnesia. Bagaimana tidak, dia membicarakan seseorang yang tidak kukenal, tapi seolah-olah orang itu menganggapku berharga. 


Bahwa seseorang yang dipanggilnya Tuan, selama ini tersiksa oleh kerinduan. Bahwa dia sebenarnya menyukaiku, tapi terbelenggu oleh ragu. Bahwa sikapnya yang menjauh adalah bentuk kebingungan, bukan penolakan. Bahwa dia menyesali perbuatannya, yang meninggalkanku tanpa sepatah kata.


Orang itu bahkan mempersilakan aku masuk, ke sebuah kamar yang katanya kamar tuan-nya. Kamar itu luas dan dipenuhi jendela-jendela besar, dengan nuansa yang serba putih. Dinding putih, sprei dan sarung bantal putih. Hanya beberapa perabotan yang warnanya berbeda, warna alami dari kayu. 


Ketika aku akhirnya menemukan pigura besar berisi foto keluarga, aku mematung. Tak sanggup lagi berkata-kata, bahkan untuk sekedar bernapas rasanya berat sekali. 


"Tuan yang berada di tengah, menggunakan kursi roda. Sama seperti Nona." 


Mendadak aku ingin menghilang tanpa jejak, ditelan bumi, atau bahkan diculik alien. Intinya tidak ingin di sini, menghadapi situasi seperti ini. 


Jiwaku seakan tersesat di ruang memori. Saat-saat di mana aku harus berkali-kali mendengar teman-teman mengulang pertanyaan, candaan, godaan, atau entah bagaimana mereka menyebutnya. Seolah-olah kalau diulang sering-sering, jawabannya, responnya, atau bahkan perasaannya akan berubah dengan sendirinya.


Padahal sejak awal aku yakin jawabannya, responnya, dan perasaannya akan tetap sama.


Aku melihat sosoknya seperti melihat seorang manusia pada umumnya. Biasa saja. Netral.


Tidak pernah membayangkan adegan romantis bersamanya, seperti yang sering muncul di film, novel, atau pun konten di media sosial.


Memang kadang mengkhawatirkannya.

Memang pernah berharap hidupnya baik-baik saja. Dan, sesekali ingin dia bahagia. Namun, apakah itu salah? Apakah aku harus berubah menjadi orang jahat biar tidak dituduh menyimpan rasa?


Aku ikut bahagia dengan semua yang dimilikinya. Kekayaan, kesuksesan, dan kemewahan yang ada. Namun, aku tidak ingin menjadi bagian hidupnya. Tak peduli sekaya apapun dia sekarang.


"Mungkin kamu salah orang. Saya tidak pernah mengenalnya," ucapku, dingin dan tegas.


Namun, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi, seketika aku menjadi panik dan takut bertemu dengannya.


Untunglah sebelum sempat bertemu dengannya, kesadaranku langsung kembali. Aku bernapas terengah-engah, sambil memandang langit-langit kamar yang warnanya telah memudar.


Syukurlah, yang tadi itu hanya mimpi... 


No comments:

Post a Comment