Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Friday, 16 October 2020

Review Film "Perfect World"


Opini Pribadi Tentang Film "Perfect World" 

Sinopsis:

Film Perfect Word bercerita mengenai kisah seorang karyawati bernama Tsugumi Kawana (Hana Sugisaki), dia bekerja di sebuah perusahaan Interior, dan perusahaan tempatnya bekerja mendapatkan sebuah proyek di mana mengharuskan perusahaan tersebut bekerjasama dengan sebuah perusahaan arsitekur.

Ketika para karyawati membaca sebuah majalah tentang profil perusahaan arsitektur, mereka menemukan profil seorang pria tampan yang bernama Itsuki Ayukawa (Takanori Iwata). Mendengar obrolan itu, Tsugumi pun tertarik pada nama pria yang disebutkan, dan mencoba memastikan bahwa pria itu pernah dikenalnya, sehingga dia bergabung dalam pembicaraan. 

Ternyata pria yang diperbincangkan itu adalah seniornya waktu di SMA, lantas para rekan kerjanya menyarankan Tsugumi agar ikut serta dalam rapat dengan perusahaan arsitektur. 

Ketika dia dan rekan kerjanya itu tiba di sebuah restoran makanan Jepang, Tsugumi pun bertemu laki-laki yang dipujanya saat SMA, Itsuki Ayukawa sedang duduk bersender. Itsuki lantas menyapa Tsugumi, dan membuatnya sedikit tersipu.

Masih segar dalam ingatan Tsugumi, Itsuki adalah senior SMA yang juga merupakan cinta pertamanya. Dia masih terbayang jelas akan pertemuan mereka di perpustakaan waktu keduanya masih sama-sama bersekolah. 

Sekarang keduanya pun dipertemukan kembali setelah beberapa tahun berlalu. Sewaktu Tsugumi merasa masih mencintainya, dia sangat terkejut karena keadaan Itsuki sudah tidak seperti dulu lagi. Saat ini Itsuki selalu menggunakan kursi roda untuk mengerjakan berbagai aktivitasnya.

*** 

Secara visual emang nggak secemerlang film My Bossy Girlfriend, film Korea Selatan yang mengangkat tema kisah romantis tentang atlet cantik disabilitas. Wajah para pemainnya nggak seglowing artis Korsel. Dan entah kenapa gambarnya kelihatan kurang jernih, atau mungkin sengaja dibikin gitu biar terkesan klasik dan artistic? Entahlah... 

Tapi dari segi cerita, menurut aku lebih realistis. Mungkin karena seakan lebih mirip dengan budaya di Indonesia. Berbeda dengan Korea Selatan yang mungkin sudah sangat maju dan open minded. Walau menurut Kakak cantik yang merekomendasikan film ini, aslinya yang dialami oleh seseorang yang keadaannya seperti Itsuki itu lebih berat dan banyak tantangannya ketimbang yang digambarkan dalam film ini.

Dari segi akting menurut aku penjiwaannya bagus banget sih. Terkesan sungguh-sungguh. Nggak ada yang janggal. Dan sukses bikin aku terhanyut dalam cerita. Sampai beberapa kali ikutan nangis...

Sayangnya, mungkin karena aku bucin, jadi aku malah lebih fokus membayangkan menjadi Tsugumi.

Bagaimana jika kita pernah sangat mengagumi seseorang, dan tiba-tiba seseorang yang dikagumi itu tak lagi sesempurna dahulu? Masihkah cinta itu bersemi? Dan sanggupkah kita bertahan mendampingi bahkan di masa-masa sulitnya?

Nggak tau kenapa kebanyakan film Jepang, terutama yang ini, kesannya lebih sopan dari pada film-film Korea Selatan, kecuali kalau filmnya yang melenceng ya... Dan aku nggak pernah nonton film Jepang yang melenceng, jadi nggak tau. Terlebih film Korea Selatan yang aku tonton biasanya bukan tema cinta, soalnya aku jarang tertarik romance Korsel sih... 😅 ✌🏻 

Tsugumi berpakaian sopan. Lebih sering pake baju lengan panjang dan rok setumit. Nggak ada adegan panas. Bahkan ciumannya terkesan lembut, bukan yang kasar penuh napsu. Tapi lebih baik diskip aja kalau dinilai kurang pantas buat budaya Indonesia, yang penting kan inti ceritanya.

Saking sopannya, waktu bapaknya Tsugumi memohon Itsuki untuk menjauh dari anaknya dan mengakhiri hubungan keduanya, Beliau bahkan membungkuk dengan hormat pada Itsuki. Makanya kalau aku jadi Itsuki, aku pasti nggak tega juga untuk menolak permintaan si Bapak.

Jadi teringat seorang kakak cantik di Sosmed yang dulu kuliah di Jepang, dia bilang budaya di Jepang memang sopan-sopan. Bahkan dalam pemilihan kata-katanya. Makanya belajar Bahasa Jepang itu ternyata nggak semudah yang aku bayangkan.

***

Menarik, bagus, dan suka banget. Diborong semua sama film ini. Recommend. Dan, aku masih pengen nonton lagi... Tapi... Udah terlanjur kuhapus dan masih banyak daftar film lain yang harus ditonton 😅

Film ini udah lama nonton, tapi baru berani review sekarang karena waktu awal-awal selesai nonton aku tuh baper sangat. Jadi takut hasil reviewnya malah kebanyakan curhat soal cinta-cintaan pribadi ... 🤣🤣🤣

Intinya: "Cinta tetaplah cinta, bagaimana pun kondisi dia yang kita cintai ..."

Tuesday, 15 September 2020

Review Novel: Savanna dan Samudra

Opini Pribadi Tentang Novel

Savanna dan Samudra by Ken Terate

"Jangan menilai sebuah buku, hanya dari sampulnya."

Aku rasa quote yang sering berseliweran itu, cocok banget buat buku ini. Karena jujur saja aku merasa tertipu dengan sampulnya yang manis. Aku mengira ini cerita romance comedy ringan. Ternyata dark, walaupun banyak komedinya.

Bintang Savanna, mahasiswi yang tiba-tiba harus berhenti kuliah dan bekerja beberapa bulan setelah kematian ayahnya. Mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah kedai susu dan memiliki rekan kerja yang kata temannya mirip Reza Rahadian. => di sini aku mulai kehilangan fokus. Jangan-jangan kalau dibuat film, pemainnya bakalan "Reza lagi, Reza lagi deh. Hadeh..." 😑

Alun Samudra, pelayan yang dibilang mirip Reza itu, lulusan SMK, yang norak, dan gaptek, sampai-sampai update Facebook saja nggak bisa. Tapi dia cowok yang lucu, dan selalu berhasil menceriakan suasana. Dia juga baik, tulus, dan apa adanya. 

Sava pikir hidupnya selama ini sempurna, dan kepergian ayahnya adalah awal petaka. Ternyata salah, dari awal dia tertipu, atau mungkin menutup mata. Keluarganya tak sempurna. Bahkan ternyata, yang selama tak mungkin dia ketahui, sejak awal pernikahan orang tuanya sudah merupakan awal petaka bagi ibunya. 

Berbeda dengan Alun, yang sejak awal sudah mengalami banyak ketidaksempurnaan dalam hidup, tapi dia menjalani semua dengan santainya. Mengikuti arus kehidupan yang membawanya ke mana pun. 

Ini sebenarnya berat banget, persoalan yang dihadapi Sava dan apa-apa yang pernah dialami Alun bukan perkara yang sederhana. Di novel-novel yang lain, mungkin bisa saja diolah menjadi drama sedih. Dengan pemilihan kata yang mendayu, alur yang diperlambat, atau cuaca dan suasana yang dibuat sehiperbola mungkin. Tapi entah kenapa novel ini sama sekali nggak bikin nangis. Malah lebih banyak ngakak. 

Mungkin karena tokohnya yang digambarkan apa adanya, bisa salah, dan punya kekurangan. Berbeda dengan kebanyakan tokoh utama yang digambarkan amat sangat baik, sehingga memicu simpati pembaca. 

Seperti Sava yang terkadang omongannya agak kasar, dan di beberapa cerita bisa terlihat kurang sopan, walaupun memang dalam kondisi terdesak. Juga soal Alun yang kayak bukan cowok baik-baik, karena sering ngomentarin sembarangan para tamu kedai bersama Koh Abeng. 

Pokoknya novel ini kompleks, bukan sekadar romantis biasa. Bisa dibilang dark, karena seluruh tokohnya punya sisi buruk. Bahkan yang paling nggak masuk akal sekalipun. 

Jadi buat suka kisah inspiratif, kisah religius, novel ini mungkin nggak rekomended. Buat yang anti kata-kata kasar dan umpatan, walaupun nggak banyak, tapi mungkin bisa bikin nggak nyaman. Tapi nggak seburuk novel "panas" kok. Masih dalam kategori aman untuk dibaca. 

Dari segi penuturan, menurut aku menarik sih. Bisa bikin betah baca sampai endingnya. Ambil jeda cuma karena beberapa kewajiban, bukan udah bosen. Sudah lama aku nggak kayak gini. Setiap naca novel maksimal cuma tiga sampai lima halaman, terus istirahat, dan lanjut besok lagi.

Terakhir, aku mau selipkan kutipan dari buku, yang entah bagaimana bikin aku langsung ngakak waktu dishare oleh Ainaya Kurniatulloh, "Banyak cowok yang dia anggap ganteng. Tapi bukan berarti apa pun. Sama seperti saat dia melihat mobil bagus. Oke, mobil itu bagus. Sudah. Oke, cowok itu ganteng. Sudah."

Jadi, ya, buku ini cukup Bagus dan Menarik. Tapi belum berhasil membuatku SUKA. Tapi lumayan buat hiburan. 😅