Ada satu kebiasaan kecil yang dulu sengaja aku lakukan: memanggil laki-laki lebih muda dengan sebutan “Dek”. Bahkan walau selisih usia kami hanya sebulan. Bukan karena aku ingin dihormati berlebihan, tapi lebih karena aku merasa itu cara halus agar mereka mengerti adanya jarak. Supaya mereka tahu batas. Biar mereka tidak bersikap macam-macam.
Namun semua berubah, sejak mengenal Nakula—memang kami tidak pernah berhadapan langsung, hanya melalui layar mungil Tiktok dan Instagram.
Nakula bukan siapa-siapaku. Dia mahasiswa pintar, ramah, dan sopan yang akhir-akhir ini sering muncul dalam berbagai video edukatif, sejak dinobatkan sebagai salah satu juara kompetisi kecerdasan antar mahasiswa di Indonesia. Aku pun bukan seseorang yang punya sangkut paut dalam kehidupannya. Cuma seorang wanita sederhana, yang tak pernah absen menyaksikan siaran langsungnya di Tiktok sambil sesekali ikut tersenyum saat melihat senyumnya yang manis.
Yang paling aneh: aku tak pernah ingin memanggilnya “Dek”, meski aku tahu usianya terpaut jauh di bawahku.
Justru, setiap kali melihat wajahnya yang serius tapi tetap menyenangkan, atau mendengar suaranya menjelaskan soal dengan tenang, ada panggilan spontan yang selalu muncul di benakku.
“Mas…”
Pernah suatu pagi, aku tak sengaja menemukan videonya sedang membahas soal ujian sambil duduk di depan layar laptop. Sinar matahari pagi membias lewat jendela di belakangnya. Rambutnya masih menyisakan bulir-bulir air, seperti baru saja mandi pagi, tapi langsung duduk bekerja. Padahal jam di ponselku, yang kuletakkan di dekat meja rias masih menunjukkan pukul 06.00.
Aku yang masih sibuk mengusap skincare ke wajah sambil menonton videonya, refleks bergumam sendiri,
“Ya ampun, Mas… ini masih pagi loh, kamu kok rajin banget…”
Seketika aku terdiam.
Dan tertawa kecil.
"Astagfirullah! Kayaknya aku lagi ngomong sendiri sama hape." Seolah berharap dia mengerti, meski tak akan pernah menjawab. Namun entah mengapa, seolah ada kupu-kupu yang berterbangan di dadaku. Rasanya itu lebih dari cukup. Cukup hanya membatin satu panggilan kecil, aku memiliki ruang untuk menyayanginya dalam sunyi. Aku tidak mengharapkan sesuatu. Pun tak menuntut untuk dijawab.
Karena panggilan itu bukan artinya aku memimpikannya jadi kakakku. Namun diam-diam, jauh di palung jiwaku yang tiba-tiba berbunga-bunga, aku mengimajinasikan ingin bisa memanggilnya begitu sepanjang waktu. Bukan sebagai penggemar dari kejauhan. Namun sebagai seseorang yang menyeduhkan teh manis sambil berkata,
“Mas, aku bikinin teh, biar kerjanya makin semangat. Tapi jangan marah kalau rasanya kurang manis, soalnya banyak gula yang kabur karena merasa nggak semanis senyumanmu.”
Aku tertawa geli, hingga sebotol moisturizer di tanganku nyari terjatuh.
Namun pagi itu, aku terinspirasi untuk mengupload quotes hari ini:
Kadang, cinta tak butuh dinyatakan dengan lantang. Cukup melalui panggilan sederhana yang sudah menjelaskan segalanya. Aku bahagia dan ikhlas mengaguminya, meski hanya dari layar mungil sosial media.
Dan aku… ingin selalu memanggilnya “Mas”.
Meskipun terdengar lirih hanya untuk sepasang telingaku sendiri.

No comments:
Post a Comment